oleh

Menelisik akidah Imam Syafi’i (Bag. 2)

Kita telah mengetahui biografi ringkas Imam Syafi’i rahimahullah pada tulisan sebelumnya. Di kesempatan kali ini, kita akan membahas beberapa hal penting tentang mazhab Syafi’i serta pandangan ulama mazhab Syafi’i sendiri terhadap permasalahan akidah. Kemudian tulisan ini diakhiri dengan penyebutan metode yang tepat dalam menelisik akidah Imam Syafi’i rahimahullah.

Mazhab Syafi’i dan Pandangan Terhadap Perkara akidah

Pengikut mazhab Syafi’i yang masyhur dengan nama Syafi’iyyah, pertama kali muncul di kota Makkah. Keberadaan Imam Syafi’i di kota Makkah memiliki andil besar yang membuat nama beliau dikenal seantero dunia. Sebab, Makkah adalah pusat peradaban Islam yang banyak didatangi kaum muslimin dari segala penjuru untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.1

Selain itu, mazhab beliau juga banyak tersebar di wilayah Irak. Karena beliau sempat tinggal di kota Baghdad yang merupakan salah satu pusat studi ilmu Islam di masa itu. Buktinya salah satu karya tulis beliau berjudul “al-Hujjah” banyak diriwayatkan oleh para ulama Irak.2

Sementara di Mesir, mazhab Syafi’i bahkan mampu mengungguli mazhab Maliki yang banyak dianut penduduk Mesir, demikian al-Baihaqi menerangkan.3

Termasuk masyarakat Indonesia, mayoritasnya menganut mazhab Syafi’i.4

Perkara akidah Dalam Mazhab Syafi’i

Ada satu hal yang penting untuk diketahui, bahwa mazhab Syafi’i tidak terbatas pada hukum fikih amaliah saja (seperti shalat, thaharah, puasa, dll), bahkan mencakup keyakinan atau akidah yang disebut dengan fikih akbar. Oleh karena itu, murid-murid Imam Syafi’i rahimahullahu ketika ditanya mengenai permasalahan akidah mereka menyatakan bahwa akidah yang mereka pegang adalah yang diajarkan guru mereka, Imam Syafi’i.

Abu Hamid al-Isfirayini (344 – 406 H), salah seorang pemuka mazhab Syafi’i, ketika menulis tentang permasalahan akidah beliau menyebutkan,

مَذْهَبِي وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَجَمِيعِ عُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ أَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ

“Mazhabku, mazhab Syafi’i dan seluruh ulama penjuru negeri adalah meyakini bahwa al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk…dst” 5

Diantara murid beliau yang banyak menulis tentang permasalahan akidah Imam Syafi’i adalah Abul Hasan al-Karji di dalam karya tulisnya berjudul (al-Fushul fi al-Ushul ‘an al-Aimmat al-Fuhul). Dalam karya tulis tersebut beliau banyak mengkritisi orang-orang yang menyelisihi Imam Syafi’i dalam hal akidah, padahal mereka mengikuti mazhab beliau dalam hal fikih.

Demikian pula murid beliau yang lain, Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani (426 – 489 H) beliau menyatakan,

فَلَا يَنْبَغِي لأحد أَن ينصر مذْهبه فِي الْفُرُوع ثمَّ يرغب عَن طَرِيقَته فِي الْأُصُول

“Tidak sepantasnya seseorang menganut mazhab beliau (Syafi’i) dalam perkara furu’ (fikih), tetapi enggan mencontohnya dalam perkara ushul (akidah).” Sebagaimana dilansir dalam karyanya berjudul al-Intishar li Ashhabi al-Hadits.6

Masih banyak lainnya dari ulama mazhab Syafi’i yang mengingkari para penganut mazhab Syafi’i dalam keadaan mereka menyelisihi asas yang menjadi pijakan ilmu fikih, yaitu asas akidah.

Cara yang Benar Mengetahui akidah Imam Syafi’i

Telah kita ketahui bersama bahwa perkara akidah merupakan komponen utama di dalam mazhab syafi’i. Ruang lingkup yang menjadi pembahasan dan mewarnai corak mazhab Syafi’i tidak hanya tersirat dalam permasalahan fikih semata. Bahkan hal itu menyentuh segala sisi agama, termasuk yang paling penting adalah permasalahan akidah atau keyakinan.

Lantas bagaimana kita dapat mengetahui akidah Imam Syafi’i rahimahullah?

Jika anda benar-benar ingin mengetahui akidah Imam Syafi’i secara ilmiah dan akurat, maka silakan merujuk kepada kalam (perkataan,ed) beliau secara langsung.

Bagaimana kita bisa menemukan kalam beliau di masa sekarang?

Setidaknya ada dua cara untuk menemukan kalam beliau,

  • Pertama, melalui karya tulis beliau sendiri. Ini adalah cara utama untuk mengenali akidah beliau. Diantara karya tulis beliau yang masih eksis hingga sekarang adalah kitab al-Umm dan ar-Risalah.

    Kitab al-Umm tidak hanya membahas perkara fikih semata, bahkan kitab itu berkaitan erat dengan perkara akidah. Karena secara umum kitab-kitab fikih juga membahas perkara akidah yang terkandung dalam berbagai permasalahan fikih. Demikian pula kitab as-Risalah, meskipun tema yang diangkat dalam bidang ilmu ushul fikih, namun ada berbagai permasalahan akidah yang disebutkan di sana.

  • Kedua, melalui nukilan yang diriwayatkan dengan sanad. Hal ini bisa ditemukan di dalam kitab-kitab akidah yang menyebutkan sanad. Diantaranya kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah tulisan Imam al-Lalika’I asy-Syafi’i (w. 418 H), kitab al-Hujjah tulisan Imam al-Ashbahani (548 – 608 H), kitab Aqidatu as-Salaf tulisan Imam ash-Shabuni (373 – 449 H), juga kitab asy-Syari’ah tulisan Imam al-Ajurry asy-Syafi’i (w. 360 H) dan lain sebagainya.

    Di dalam kitab-kitab tersebut kita akan mendapati berbagai nukilan perkataan ulama terdahulu dilengkapi dengan sanad yang bersambung sampai kepada si pengucap. Bahkan al-Hakkari (409 – 486 H) rahimahullah telah mengumpulkan berbagai nukilan perkataan Imam Syafi’i terkait akidah beserta sanadnya dalam karya tulis berjudul I’tiqad asy-Syafi’i. 7

Melalui dua cara tersebut, InsyaAllah kita dapat menelisik akidah Imam Syafi’i secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Mengingat banyak orang yang menyandarkan berbagai pendapat dan keyakinan kepada salah satu ulama umat –diantaranya Syafi’i rahimahullah- tanpa ada dasar dan bukti akan hal itu.

Maka pada tulisan berikutnya InsyaAllah kita akan menukilkan beberapa penuturan Imam Syafi’i rahimahullah terkait permasalahan akidah. Semoga Allah memberi kemudahan dan taufik kepada penulis dan pembaca sekalian. FAI-HKM


1 Lihat Adab asy-Syafi’i karya Ibnu Abi Hatim (hlm. 58 – 59) dan Manaqib asy-Syafi’i karya al-Baihaqi (1/178 – 181)

2 Lihat Muqaddimah kitab al-Majmu’Syarah al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi (1/9).

3 Manaqib asy-Syafi’i (1/235).

4 Sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Dr. Hamka (mantan ketua MUI). Lihat buku Mewaspadai Kesesatan Syiah, terbitan MUI Pusat.

5 Dinukil dari Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyyah karya Muhammad bin Abu Bakr (1/273).

6 Disadur dari al-Intishar li Ashabil Hadits (hlm. 9)

7 Disadur dari Aqidatu al-Imam asy-Syafi’i (hlm. 16-17) dengan perubahan.