Memuliakan guru merupakan salah satu adab yang harus dilakukan oleh setiap pelajar, terutama kepada guru yang mengajarkan ilmu agama. Seseorang yang mengajarkan ilmu agama memiliki kedudukan yang mulia dan keutamaan yang banyak. Oleh karena itu, pada rubrik adab kali ini, kita akan membahas tentang apa keutamaan guru dan bagaimana cara yang benar dalam memuliakan guru sesuai dengan syariat Islam.
Keutamaan Seorang Guru dalam Islam
Guru yang mengajarkan ilmu agama adalah orang yang sangat mulia dan terhormat. Karena sebelum mengajarkan ilmu, tentu ia sudah menjalani kewajiban menuntut ilmu. Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan orang-orang yang berilmu (guru),
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰت
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat.” [al-Mujadalah: 11]
Allah Ta’ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk merujuk (kembali) dan bertanya kepada orang-orang yang berilmu terkait permasalahan-permasalahan agama yang tidak mereka ketahui. Allah Ta’ala berfirman,
فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” [al-Anbiya’: 7]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang menunjukkan tentang keutamaan seorang guru,
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ –حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الحُــوْتَ– لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِي النَّاسِ الْـخَـــيْــرَ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya serta seluruh penduduk langit dan bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan (di air), akan bershalawat (mendoakan ampunan dan rahmat) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” 1
Makna shalawat Allah untuk hamba-Nya adalah Allah Ta’ala akan menyebut-nyebut dan memuji hamba tersebut di sisi para malaikat-Nya. Sedangkan makna shalawat dari makhluk adalah doa berupa rahmat dan ampunan untuk hamba tersebut.
Para ulama juga telah menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan dan kedudukan orang yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah mengatakan,
عَالِم مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاءِ
“Seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya akan dipanggil sebagai seorang yang besar di kerajaan langit.” 2
Imam Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah juga pernah berkata,
اَلعُلَمَاءُ فِي الأَرْضِ مِثْلُ النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ إِذَا بَدَتْ لِلنَّاسِ اِهْتَدَوْا بِهَا، وَإِذَا خَفِيَتْ عَلَيْهِمْ تَحَيَّرُوا
“Para ulama (orang-orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya) di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Jika dia muncul, maka manusia akan terbimbing. Namun jika dia tidak tampak, maka manusia akan kebingungan.” 3
Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan seorang guru yang mengajarkan ilmu agama. Tidak mungkin kita menyebutkan seluruhnya. Keutamaan-keutamaan itu menunjukkan atas kemuliaan dan kehormatan yang ia miliki. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita memperhatikan cara-cara memuliakan guru yang akan disebutkan berikut ini.
Cara Memuliakan Guru
Setelah kita mengetahui berbagai macam keutamaan seorang guru dalam agama Islam, maka sudah sepantasnya bagi kita untuk memuliakan mereka.
Di antara cara memuliakan guru adalah beradab kepada mereka dengan adab-adab yang mulia sesuai tuntunan syari’at Islam. Adab-adab yang mulia tersebut sangatlah banyak dan telah dijelaskan oleh para ulama. Di antaranya adalah pernyataan yang disebutkan oleh al-Imam Badruddin bin Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’i rahimahullah dalam sebuah karya beliau yang berjudul Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim,
1. Hendaknya seorang murid mematuhi perintah-perintah gurunya (selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan), tidak menyelisihi arahan dan bimbingannya, serta selalu bersikap tawadhu’ (rendah hati) kepadanya. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berkata,
أُمِرْنَا أَنْ نَتَوَاضَعَ لِمَنْ نَتَعَلَّمُ مِنْهُ
“Kita diperintahkan untuk bersikap tawadhu’ kepada orang yang mengajari kita.” 4
Ini adalah di antara cara memuliakan guru, yaitu dengan bersikap tawadhu’ kepadanya dan tidak merasa bahwa dirinya lebih mengetahui tentang suatu permasalahan dibanding gurunya.
2. Hendaknya seorang murid memandang gurunya dengan pandangan pemuliaan dan penghormatan serta meyakini bahwa guru tersebut memiliki banyak kebaikan dan jasa. Sikap seperti ini lebih memudahkan dirinya untuk mendapatkan manfaat dari gurunya tersebut. 5
3. Hendaknya seorang murid selalu mendoakan kebaikan bagi gurunya, baik di saat masih hidup maupun setelah wafatnya, memperhatikan dan menjaga anak keturunan dan kerabat sang guru ketika dia telah wafat, serta hendaknya ia berusaha untuk menziarahi kuburannya serta memintakan ampunan untuknya.6
4. Sudah sepantasnya bagi seorang murid untuk bersabar atas sikap keras yang muncul dari sang guru. Tidaklah sikap keras sang guru menghalanginya untuk terus menuntut ilmu dari gurunya tersebut. Dan hendaklah ia selalu berprasangka baik kepadanya.7
5. Hendaknya seorang murid memperbagus ucapannya ketika ia berbicara kepada sang guru sesuai dengan kemampuannya. Dan hendaknya ia tidak mengatakan: “Kenapa bisa demikian?”, atau “Kita tidak menerima hal tersebut.”, tidak pula “Siapa yang menukil hal tersebut?”, dan yang semisalnya (perkataan-perkataan yang kurang sopan dan tidak pantas diucapkan kepada sang guru).
Ada sebuah perkataan dari sebagian salaf,
مَنْ قَالَ لِشَيْخِهِ: “لِــمَ؟” لَـــمْ يُفْلِحْ أَبَدًا.
“Barangsiapa yang mengatakan kepada gurunya: “Mengapa?” maka ia tidak akan sukses selamanya.”8
6. Hendaknya jika ia mendengar sang guru sedang menyampaikan sebuah permasalahan atau faidah yang telah ia ketahui atau bahkan telah ia hafal, maka ia pun tetap mencurahkan pendengarannya dan memperhatikannya seakan-akan ia belum pernah mendengarnya sama sekali.9
Masih banyak lagi adab-adab mulia sebagai upaya memuliakan guru. Maka sudah sepantasnya bagi kita semua, terkhusus para penuntut ilmu untuk senantiasa memperhatikan dan merealisasikan adab-adab tersebut.
Baca Juga: Duhai Ayah dan Bunda, Kepada Siapa Kau Titipkan Pendidikanku?
Contoh dari Para Salaf dalam Memuliakan Guru
Para ulama telah memberikan contoh kepada kita semua tentang bagaimana cara memuliakan guru. Mereka telah berusaha dengan semaksimal mungkin dalam memuliakan guru-guru mereka. Maka di sini kami akan menyebutkan beberapa contoh saja sebagaimana berikut:
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata,
كُنْتُ أَصْفَحُ الْوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ صَفْحاً رَفِـــيْقاً هَيْبَةً لَهُ لِئَلَّا يَسْمَعَ وَقْعَهَا.
“Dahulu jika aku membuka lembaran-lembaran di hadapan Malik, maka aku membukanya secara lembut sebagai bentuk penghormatan bagi beliau agar beliau tidak mendengar suara kertas tersebut.”10
Masya Allah, kita lihat bagaimana Imam Asy-Syafi’i rahimahullah benar-benar berusaha memuliakan gurunya, yaitu Imam Malik, sampai-sampai beliau tidak ingin gurunya tersebut mendengar suara kertas yang dibuka saat sedang bermajelis dengannya.
Imam ar-Rabi’ rahimahullah juga pernah berkata,
وَاللهِ مَا اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْـمَــاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ.
“Demi Allah, aku tidak berani untuk meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihat ke arahku. Hal ini sebagai bentuk penghormatanku kepada beliau.”11
Imam Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah pernah berkata,
إِنِّـي لَأَسْمَعُ الْـحَدِيْثَ مِنَ الرَّجُلِ وَأَنَا أَعْلَمَ بِهِ مِنْهُ فَأُرِيَهُ مِنْ نَفْسِي أَنِّـي لَا أُحْسِنُ مِنْهُ شَيْئاً.
“Sungguh jika aku telah mendengar sebuah hadits dari seseorang dan aku lebih mengetahui tentang hadits tersebut daripada beliau, maka aku akan menampakkan kepada beliau bahwa seolah-olah diriku tidak mengetahui sedikit pun tentang hadits tersebut.”12
Beliau juga pernah mengatakan perkataan yang semisal,
إِنَّ الشَّابَ لَيَتَحَدَّثُ بِـحَدِيْثٍ فَأَسْمَعُ لَهُ كَأَنِّـي لَـمْ أَسْمَعْهُ، وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ.
“Sesungguhnya jika ada seseorang yang menyebutkan sebuah hadits, maka aku pun akan mendengarkannya seakan-akan aku belum pernah mendengarnya. Padahal sungguh aku telah mendengarnya sebelum orang tersebut lahir.”13
Demikianlah beberapa teladan dari para ulama salaf di dalam memuliakan guru. Hendaknya kita semua berusaha mencontoh dan meneladani mereka. Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita semua taufik dan rahmat-Nya serta ilmu yang bermanfaat. Amiin. Wallahu a’lam bish shawab, semoga bermanfaat. (ADF/MPS/ATH)
Penulis: Ahmad Daffa’ Faadhilah
Referensi: kitab Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim karya imam Badruddin bin Jama’ah Al-Kinany Asy-Syafi’i rahimahullah, wafat tahun 733 h.
Footnotes
- Shahih at-targhib wat-tarhib 1/144 (karya asy-syaikh Muhammad bin Nuh, wafat tahun: 1420 Hijriah)
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 91
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal:89
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 155
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 157
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 158
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 158
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 164
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 166
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 157
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 157
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 166
- Tadzkiratus-sami’ wal-mutakallim hal: 167










Komentar