oleh

Kenapa Allah Ta’ala Mencela Mayoritas?

-Manhaj-881 views

Allah Ta‘ala mencela mayoritas manusia, sebagaimana yang Dia firmankan dalam Al-Qur’an,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan (mayoritas) orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [Al-An’am: 116]

Asy-Syaikh, mufti Saudi, Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Di antara kesalahan yang orang-orang Jahiliyyah terjatuh di dalamnya adalah anggapan bahwa mayoritas manusia berada di atas kebenaran sedangkan minoritas mereka berada di atas kebatilan. Menurut mereka, di mana mayoritas berada maka di situlah posisi kebenaran; dan di mana minoritas berada maka di situlah posisi kebatilan. Inilah tolok ukur mereka dalam mengenali kebenaran dan kebatilan.” 1

Siapa Jahiliah Itu?

Jahiliah berasal dari kata al-jahl (الجهل) yang berarti kebodohan, yaitu tidak adanya ilmu atau tidak mengamalkan ilmu.

Yang dimaksud dengan Jahiliah adalah kebodohan terhadap petunjuk Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan. Istilah ini secara khusus digunakan untuk menggambarkan kondisi masyarakat Arab sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun maknanya juga bisa berlaku pada setiap keadaan yang menyelisihi petunjuk wahyu. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta‘ala,

وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu.” [Al-Ahzab: 33]

Yang dimaksud adalah zaman sebelum Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam diutus. Pada masa itu, kebanyakan manusia telah menyimpang dari petunjuk para nabi, sehingga mereka terjatuh dalam kesesatan, kekufuran, dan berbagai bentuk penyimpangan.

Hal ini terjadi karena ajaran-ajaran sebelumnya telah mengalami perubahan dan penyelewengan. Kaum Yahudi, misalnya, telah mengubah isi kitab suci mereka, yaitu Taurat, dengan memasukkan berbagai bentuk kesesatan dan kebatilan ke dalamnya. Demikian pula kaum Nasrani yang menyimpang dari ajaran yang lurus.

Akibatnya, manusia kembali berada dalam kondisi Jahiliah hingga Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam. 

Demikian pula kaum Nasrani telah menyelewengkan kitab suci mereka, yaitu Injil, dari bentuk aslinya ketika diturunkan kepada Isa ‘alaihissalam. 2

Dengan ini, apakah kita ingin meniru orang-orang yang bodoh semisal mereka? Na’udzubillah mindzalik.

Dalil Bahwa Allah Ta’ala Mencela Mayoritas

Allah Ta’ala mencela mayoritas di dalam Al-Qur’an di beberapa tempat, di antaranya:

  1. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan (mayoritas) orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [Al-An’am: 116]

  1. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi kebanyakan (mayoritas) manusia tidak mengetahui.” [Al-A’raf: 187]

  1. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan (mayoritas) mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan (mayoritas) mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Al-A’raf: 102]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lainya. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah mencela dengan menyebutkan kesesatan, kebodohan, dan kefasikan pada mayoritas manusia. Celaan itu menunjukkan adanya kekurangan dan penyimpangan pada sesuatu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa mayoritas bukanlah tolok ukur kebenaran.

Petunjuk Bahwa Tolok Ukur Itu Bukan pada Jumlah

Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ. فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ. وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ. وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ. إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ. فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي. فقيل لي: هذا مُوْسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ. وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ. فَنَظَرْتُ. فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ. فَقِيلَ لِي: انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ الآخَرِ. فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ. فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ. وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ

“Diperlihatkan kepadaku berbagai umat. Aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari sepuluh orang. Ada pula nabi yang pengikutnya hanya satu atau dua orang. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki seorang pengikut pun.

Ketika diperlihatkan kepadaku sekelompok besar manusia, aku mengira bahwa itu adalah umatku. Namun dikatakan kepadaku, “Itu adalah Musa bersama kaumnya, tetapi lihatlah ke ufuk.” 

Maka aku pun melihat sekelompok besar manusia. Kemudian dikatakan lagi kepadaku, “Lihatlah ke ufuk yang lain.” Maka aku pun melihat sekelompok besar manusia. Lalu dikatakan kepadaku, “Inilah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”  3

Kita sedang hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Dengan memahami hal ini, semoga kita diberi taufik untuk dapat lebih berhati-hati dalam bertindak, melakukan tatsabbut (kroscek) terlebih dahulu terhadap setiap berita yang kita terima, berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta tidak tertipu dengan mayoritas manusia. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (MSH/LTC/ATH)

Penulis: Syarif Karawang

Referensi:

  1. Al-Qur’an Al-Karim
  2. Syarah (Masaail jaahiliyyah), karya Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah.
  3. Shahih Muslim, karya Imam Muslim rahimahullah

 

Footnotes

  1. Lihat kitab (syarh masaail jaahiliyyah) karya beliau hal.60,

    من مسائل الجاهلية: أنهم يستدلون بالأكثرين على الحق، ويستدلون بالأقلين على غير الحق، فما كان عليه الأكثر عندهم فهو الحق، وما كان عليه الأقل فهو غير حق، هذا هو الميزان عندهم في معرفة الحق من الباطل

  2. Lihat kitab Syarh Masaail Jahiliah karya As-Syaikh Mufti Saudi Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah hal.60-61,

    ما هو الجاهلية؟

    أما الجاهلية، فالمراد بها النسبة إلى الجهل، والجهل عدم العلم، والجاهلية هي التي ليس فيها رسول وليس فيها كتاب.

    والمراد بها: ما كان قبل بعثة النبي صلى الله عليه وسلم قال تعالى: {وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى} [الأحزاب: 33] يعني: التي قبل بعثة النبي صلى الله عليه وسلم؛ لأنه قبل بعث النبي صلى الله عليه وسلم كان العالم كله يموج في ضلال وكفر وإلحاد؛ لأن الرسالات السابقة اندرست، فاليهود حرفوا كتابهم التوراة، وأدخلوا فيه كثيراً من الكفريات والضلال، والشنائع التي أدخلوها في التوراة،

    وكذلك النصارى حرفوا كتابهم الإنجيل عما كان عليه وقت نزوله على المسيح عليه الصلاة والسلام، وذلك أن رجلاً يقال له: بلس، أو شاول، كان يهودياً حاقداً على رسول الله عيسى عليه السلام، فهذا الرجل لجأ إلى المكر والخديعة، في إفساد دين المسيح عليه السلام، حيث أظهر الإيمان بالمسيح، وأنه ندم على ما كان من قبل من عداوة المسيح، وأنه رأى رؤيا – بزعمه – فآمن بالمسيح، وصدقه النصارى فيما قال،

    ثم إنه تناول الإنجيل الذي أنوله الله على عيسى، فأدخل فيه الوثنيات والشركيات والكفريات، حيث أدخل فيه عقيدة التثليث، أي أن الله ثالث ثلاثة، وأن عيسى ابن الله، أو هو الله. وأدخل فيه الأمر بعبادة الصليب، وأدخل كفريات شنيعة، وصدقوه في ذلك على أنه عالم، وعلى أنه مؤمن ولقبوه بالرسول بلس أي رسول المسيح بزعمهم وقصده إفساد دين المسيح، وحصل له ما أراد، فقد افسد دين المسيح وأدخل فيه الوثنيات والتثليث، واعتقاد أن عيسى ابن الله، أو أنه ثالث ثلاثة، وأدخل فيه وثنيات كثيرة فاتبعوه على ذلك

  3. Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah di dalam kitab shahihnya,

    نص الحديث

    حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ. حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ. أَخْبَرَنَا حُصَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ؛ قَالَ:

    كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ: أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ؟ قُلْتُ: أَنَا. ثُمَّ قُلْتُ: أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ. وَلَكِنِّي لُدِغْتُ. قَالَ: فَمَاذَا صَنَعْتَ؟ قُلْتُ: اسْتَرْقَيْتُ. قَالَ: فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ؟ قُلْتُ: حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ. فَقَالَ: وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ؟ قُلْتُ: حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الأَسْلَمِيِّ؛ أَنَّهُ قَالَ: لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ. فَقَالَ: قَدْ أَحْسَنَ مَنِ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ. وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ. فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ. وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ. وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ. إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ. فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي. فقيل لي: هذا موسى صلى الله عليه وسلم وَقَوْمُهُ. وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ. فَنَظَرْتُ. فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ. فَقِيلَ لِي: انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ الآخَرِ. فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ. فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ. وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ“.

    ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ. فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ.فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ. وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ. فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: “مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ؟ ” فَأَخْبَرُوهُ. فَقَالَ “هم الذين لا يرقون. ولا يسترقوون. وَلَا يَتَطَيَّرُونَ. وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ” فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ. فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ “أَنْتَ مِنْهُمْ” ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فقال “سبقك بها عكاشة“

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *