Menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peribadatan atau yang disebut dengan istilah syirik merupakan dosa terbesar yang pernah dilakukan oleh anak manusia. Allah Ta’ala menciptakan manusia di dunia ini dengan satu tujuan, sebagaimana yang telah Dia beritakan dalam salah satu ayat-Nya,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Menyekutukan Allah Ta’ala dalam peribadatan menunjukkan bahwa seseorang telah berpaling dari tujuan yang Allah Ta’ala kehendaki atas keberadaannya di muka bumi. Lalu, siapakah yang pertama kali memulai dan melakukan dosa ini di muka bumi? Di sini kita akan menjelaskan, “Kapankah Awal Mula Allah Disekutukan?”
Manusia Pertama Berada di Atas Fitrah
Adam dan Hawa merupakan manusia pertama yang ada di muka bumi. Mereka memiliki pandangan dan keyakinan tentang Allah serta cara mengagungkan-Nya. Tentu, kita sebagai anak keturunannya harus mengetahui apa yang mereka yakini selaku ayah dan ibu kita. Di antara keyakinan mereka adalah bahwa Allah itu Maha Esa, tidak ada yang kedua apalagi yang ketiga.
Adam dan Hawa meyakini bahwa Tuhan itu hanyalah Allah semata, dan dalam mengagungkan-Nya tidak boleh menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun atau siapa pun. Itulah makna tauhid yang selalu diajarkan oleh Adam dan Hawa agar menjadi pegangan bagi anak keturunannya dalam berideologi tentang Rabbul ‘Alamin.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa seluruh manusia yang ada di muka bumi ini sejatinya dilahirkan di atas fitrah (tauhid: mengesakan Allah semata).
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang terlahir (itu) di atas fitrah. Dan orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Kristen atau penyembah api.”
(HR. Al-Bukhori dan Muslim)
Ya, setiap anak yang terlahir pasti berada di atas fitrah (tauhid). Namun, sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas, ada faktor-faktor luar yang menggeser fitrah tersebut, di antaranya adalah orang tua. Teman, karib kerabat, ataupun lingkungan lainnya pun bisa menjadi faktor penyebab bergesernya agama dan keyakinan.
Pertama Kali Fitrah Itu Bergeser
Setelah Adam dan Hawa wafat, anak cucu beliau terus memegang wasiat yang diberikan oleh orang tua mereka berupa ajaran tauhid. Sang ayah benar-benar mengetahui bahwa musuhnya tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan merealisasikan janjinya ketika ia bersumpah di hadapan Allah dan para penduduk langit bahwa ia akan menyesatkan anak keturunan Adam dari jalan yang benar serta menjadikan mereka sebagai pengikutnya dan temannya di neraka kelak.
Setelah sekian lama, akhirnya rencana itu pun berhasil. Hal itu bermula ketika kaum Nabi Nuh kehilangan orang-orang shalih mereka yang bernama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Dalam suasana kehilangan tersebut, Iblis melihat kesempatan untuk merealisasikan ambisinya. Ia membisikkan kepada mereka agar menggambar orang-orang shalih tersebut di tempat biasa mereka berkumpul dengan tujuan mengenang peran mereka agar bisa mereka teladani.
Ketika generasi telah berganti, Iblis kembali membisiki mereka agar membuat patung-patung berwujud orang-orang shalih itu dengan tujuan yang sama, dan mereka pun mengikuti bisikan tersebut. Hingga datanglah masa ketika anak cucu kaum itu tidak lagi mengetahui tujuan awal pembuatan patung-patung tersebut oleh kakek-kakek mereka. Pada saat itulah Iblis membisiki mereka untuk mengagungkan patung-patung itu, hingga pada akhirnya menjadi sesembahan mereka.
Baca Juga: Bahaya Dosa Syirik dan Ancaman Bagi Pelakunya
Akhir Perjalanan Mereka
Setelah kaum tersebut menjadi kaum paganis (penyembah patung), Allah dengan kasih sayang-Nya mengutus seorang rasul kepada mereka dari golongan mereka sendiri, yaitu Nuh ‘alaihis salam. Allah mengutus beliau ke tengah-tengah mereka untuk mengajak agar kembali memeluk ajaran tauhid, yaitu ajaran kakek-kakek mereka. Siang dan malam Nuh ‘alaihis salam menyeru mereka agar kembali ke jalan yang benar.
Namun, setelah genap 950 tahun Nuh mengajak mereka dan melihat sikap keras kepala kaumnya, beliau merasa sangat berat menghadapi penolakan tersebut. Ia pun berdo’a kepada Allah dan mengadu kepada Allah.
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلًا وَنَهَارًا …
“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran)…” (Nuh: 5–9)
Namun mereka tetap di atas pendirian mereka dan enggan mengikuti ajakan Nuh ‘alaihis salam. Maka Nuh ‘alaihis salam kembali berdo’a,
قَالَ نُوحٌ رَّبِّ إِنَّهُمۡ عَصَوۡنِي …
“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku…’” (Nuh: 21–22)
Nuh ‘alaihis salam terus mengadu kepada Rabbnya,
وَقَدۡ أَضَلُّواْ كَثِيرًا …
“Dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia)…” (Nuh: 24)
Hingga pada akhirnya, setelah sekian lama bersabar, Nuh pun berdo’a agar Allah menurunkan azab kepada kaumnya yang terus menentang kebenaran,
وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا …
“Nuh berkata: ‘Wahai Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi…’” (Nuh: 26–27)
Akhirnya, Allah pun mengabulkan permintaan Nuh ‘alaihis salam. Allah mengirim kepada mereka air bah yang sangat besar sehingga terjadilah banjir terbesar dalam sejarah umat manusia. Allah berfirman,
مِّمَّا خَطِيٓـَٰٔتِهِمۡ أُغۡرِقُواْ …
“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka…” (Nuh: 25)
Allah mengazab mereka, yaitu semua yang menentang dan memusuhi seruan Nuh ‘alaihis salam. Allah hanya menyisakan hamba-hamba-Nya yang beriman kepadanya, sehingga bumi saat itu bersih dari orang-orang yang menyekutukan Allah Ta’ala.
Dari paparan di atas, kita mengetahui siapakah yang pertama kali melakukan kesyirikan kepada Allah di muka bumi. Semoga penjelasan singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin. (LBK/ASP/AAK)
Penulis: Luqman Bilal
Referensi:
- Al-Qur’an Al-Karim.
- Shahih al-Bukhari dan Muslim.
