oleh

Sudah Dengar Adzan Perlukah Adzan Lagi?

-Fatwa-3,118 views

 Dalam menjalankan sebuah ibadah, terdapat hukum-hukum yang terkait dengannya. Tentu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hukum-hukum tersebut, terlebih lagi jika ibadah-ibadah tersebut sering kita jumpai sehari-hari, seperti ibadah adzan dan hukum-hukum seputarnya. Berikut kami sampaikan fatwa seputar adzan dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Pertanyaan

“Apabila seseorang berada pada suatu jamaah dalam keadaan ia telah mendengarkan adzan, apakah tetap wajib baginya untuk adzan atau adzan yang ia dengarkan tadi telah mencukupi?”

Jawaban

Dengan menyebut nama Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya milik-Nya, kemudian shalawat serta salam senantiasa kita panjatkan atas Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya, serta para pengikutnya.

Seorang yang berada pada suatu jamaah dan telah mendengar adzan dikumandangkan dari masjid mana pun itu, maka wajib baginya dan sekumpulan orang tersebut untuk menjawab adzan, serta menuju ke masjid. Tidak boleh baginya shalat di tempat mereka berada saat itu (di luar masjid) serta tidak perlu lagi untuk mengumandangkan adzan dan selainnya.

Bahkan mereka harus menuju masjid terdekat yang telah mengumandangkan adzan tadi apabila jarak tempuhnya memungkinkan dan dapat melaksanakan shalat berjama’ah bersama mereka di sana.

Apabila adzan menggunakan suara asli (tanpa bantuan pengeras) maka umumnya masjidnya dekat. Namun apabila menggunakan pengeras suara, bisa jadi masjidnya berjarak jauh dan suara adzan tersebut terdengar dari tempat yang jauh. Pada kondisi ini tetap wajib bagi mereka menuju ke masjid itu jika memungkinkan. Namun apabila jauh dan tidak mudah menjangkaunya maka ia tetap wajib menempuhnya kecuali jika diperkirakan apabila ia menempuhnya ia akan sampai ketika shalat telah usai.

Dan karena suara (adzan) telah mereka dengar melalui perantara pengeras suara walaupun berasal dari tempat yang jauh, karena tujuannya adalah mendengar adzan dan adanya sesuatu yang dapat menyeru untuk melaksanakan shalat serta memberitahu masuknya waktu shalat, dan hal itu telah tercapai.

Pertanyaan

Kemudian seorang menyampaikan: Tidak syaikh, yang dia maksudkan dalam pertanyaannya adalah: Apakah wajib baginya untuk tetap adzan (ketika telah mendengarkan adzan dari tempat lain dan hendak melaksanakan shalat di tempatnya) ataukah cukup dengan iqamah karena telah mendengarkan adzan tadi? Tolong berikan kepada kami penjelasan.

Jawaban

 Syaikh menjawab: Adzan yang ia dengar telah mencukupi (cukup iqamah dan tak perlu mengulang adzan)

Maksudnya iqamah tadi sudah cukup. Apabila ia tak bisa menunaikan shalat di masjid secara berjama’ah, karena sakit atau udzur-udzur lainnya yang dibolehkan syariat, maka adzan tadi telah mencukupi dan cukup baginya iqamah (sebelum menegakkan shalat).

Namun apabila ia berada pada tempat yang dekat yang memungkinkan untuk mencapai masjid sumber dikumandangkannya adzan dan shalat berjama’ah disitu, maka hal itu wajib atas mereka yang mendengarkannya untuk menjawab panggilan adzan, sebagaimana dalam sebuah hadis,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa yang mendengarkan adzan dan tidak memenuhinya maka tidak ada shalat untuknya kecuali dia memiliki udzur.” 1

Demikianlah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Maka wajib bagi yang mendengarkan adzan untuk memenuhi panggilan muadzin, dan menuju masjid agar tercapai perkumpulan jamaah shalat yang banyak, dan bersatu di atas ketaatan kepada Allah Ta’ala. Hal ini juga sebagai bentuk perealisasian terhadap perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menghadiri shalat berjama’ah.

Adapun apabila ada penghalang berupa udzur yang dibenarkan syariat seperti sakit, takut, sedang menjaga hartanya, yang mana dalam kondisi tersebut membuatnya tidak bisa menuju masjid, atau karena sebab masjid berjarak jauh dan diperkirakan jika menempuh perjalanan akan tiba ketika shalat telah tuntas, maka hendaknya mereka shalat di tempat mereka dan tak perlu mengumandangkan adzan, tapi apabila mengumandangkan adzan itu pun tak mengapa.

Jika mencukupkan dengan adzan yang telah didengar maka itu sudah mencukupi. Sehingga mereka hanya perlu melakukan iqamah. Demikian pula bagi orang yang tertinggal dari shalat berjama’ah karena udzur maka hanya perlu melakukam iqamah tanpa adzan. 2

Sekian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah seputar adzan. Semoga fatwa tersebut menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita dan dapat kita amalkan sehari-hari.


Baca Juga: Adzan Merdu Tapi Keliru? Pembahasan Seputar Tata Cara Adzan yang Benar


Referensi:

  1. Fatawa Nur Alad Darb karya Mufti Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (W. 1420 H)
  2. Sunan Ad-Daruquthni karya Abul Hasan Ali bin Umar Al-Baghdadi Ad-Daruquthni rahimahullah (W. 385 H)

Link Fatwa: http://bit.ly/3YgTNnw

(ZDN/AAA/AAK)


 

Footnotes

  1. HR. ad-Daruquthni no. 1555 dalam Sunan ad-Daruquthni dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu
  2. السؤال 

    سماحة الشيخ السؤال الأول من السائل يقول: أخوكم في الله يحيى محمد جابر زيداني يقول: إنسان في جماعة وسمع الأذان هل يجب عليه أن يؤذن أو يكفيه الأذان الذي سمعه من مؤذن آخر؟

     الجواب

    بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه. أما بعد 

    فالإنسان الذي في جماعة وسمع الأذان من أي مسجد فإن الواجب عليه وعلى الجماعة أن يجيبوا الأذان وأن يتوجهوا إلى المسجد، ولا يصلون في محلهم، ولا حاجة إلى أذان ولا غيره، بل يتوجهون إلى المسجد الذي سمعوا أذانه وهو قريب منهم، بحيث يمكنهم الوصول إليه والصلاة معهم. إذا كان الأذان بالصوت الطبيعي فإن الغالب يكون المسجد قريبًا، أما إذا كان بالمكبر فقد يكون بعيدًا ووصلهم الصوت من بعد.
    >
    فالحاصل: أن الواجب عليهم التوجه إلى المسجد إذا أمكن، أما إن كان بعيداً لا يتيسر الوصول إليه إلا بعد فوات الصلاة لبعده؛ ولأن الصوت سمعوه بواسطة المكبر وهو يأتي من بعيد، فإنهم يكتفون بالأذان هذا وتكفي الإقامة؛ لأن المقصود سماع الأذان ووجود ما يدعو الناس إلى الصلاة ويعلمهم بالوقت، وقد حصل

    المقدم
    لا، وهو يقول أيضًا في الرسالة: هل يجب عليه أن يؤذن أم يقيم على الأذان الذي يسمعه من حوله؟ أفيدونا

    الشيخ
    يكفي هذا 

    المقدم
    هذا يعني قريبًا منه

    الشيخ
    المقصود يكفيه الإقامة، إذا كان ما يتيسر له أن يصلي مع الناس لمرض أو كونه حارسًا أو ما أشبه ذلك، يكفيه الأذان ويقيم، يعني يأتي بالإقامة فقط، أما إذا كان في محل قريب بحيث يستطيع الوصول إلى محل الأذان ويصلي مع الناس، فإن الواجب على هؤلاء السامعين للأذان أن يجيبوا، للحديث من سمع النداء فلم يجب فلا صلاة له إلا من عذر هكذا قال النبي عليه الصلاة والسلام

    مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

    فالواجب على من سمع الأذان أن يجيب المؤذن، ويتوجه إلى المسجد أو محل المسجد ومحل إقامة الجماعة حتى يكثروا السواد، وحتى يحصل الاجتماع على طاعة الله وحتى يحصل الامتثال، لأمر النبي ﷺ في حضور الجماعة. لكن إذا كان هناك مانع من مرض أو خوف، أو كونه حارسًا لمال عنده لا يستطيع التوجه، أو لأن المكان بعيد وسمعوا الصوت من بعيد بسبب المكبر، ولا يستطيعون الوصول إليه إلا وقد فاتتهم الصلاة، فليصلوا في مكانهم ويكتفون بالأذان، فإن أذَّنوا فلا بأس، إن أذَّنوا أذانًا ثانيًا فلا حرج؛ لأنه خير بلا شر، ولاسيما مع البُعد، وإن اكتفوا بالأذان فإنه كافٍ، وعليهم أن يقيموا فقط، على هذا المتخلف لمرض أو خوف أو ما أشبه ذلك أن يقيم الصلاة ويكتفي بالأذان. نعم.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *