Di antara doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan adalah doa ketika melihat seseorang tertimpa musibah. Baik musibah terkait urusan dunia seperti sakit, kehilangan harta, bencana alam dan sebagainya. Maupun musibah dalam agama seperti terjerumus dalam maksiat, tertimpa kesesatan atau bahkan kekufuran wal’iyadzubillah! Lalu apa lafadz doa tersebut? Ikuti penjelasannya.
Lafadz Doa Ketika Melihat Seseorang Tertimpa Musibah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَأَى مُبْتَلًى، فَقَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا، لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ البَلَاءُ
“Barangsiapa melihat seseorang yang ditimpa musibah, kemudian ia berdoa: ‘Segala puji hanya milik Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu dan mengutamakanku di atas sekian dari makhluknya.’ Maka musibah tersebut tidak akan menimpanya.” 1
Penjelasan
Doa di atas merupakan doa yang disyariatkan ketika kita melihat atau mendengar ada seseorang yang Allah timpakan kepadanya sebuah musibah. Baik musibah pada agama maupun dunianya.2
Di samping itu, doa ini juga merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala. Allah lah yang telah menyelamatkan kita dari musibah yang Ia timpakan kepada orang lain.3
Adapun terkait dengan pembacaan doa ini, sebagian ulama mengatakan hendaknya seseorang mengucapkan doa ini secara lirih dan hanya ia sendiri yang mendengarnya. Kecuali jika musibah yang menimpa berupa suatu kemaksiatan, maka tidak mengapa memperdengarkan doa ini kepada orang yang Allah Ta’ala timpakan kepadanya musibah tersebut dalam rangka pengingkaran terhadapnya.4
Penutup
Para pembaca yang mulia, demikianlah penjelasan terkait doa ketika melihat seseorang tertimpa musibah. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk mengamalkan doa ini sehingga hati kita selalu mengingat Allah Ta’ala dan lisan kita selalu basah dengan berdzikir kepada-Nya. Wallahu a’lam bish shawab. (ARM/LTC/IWU)
Penulis: Ahmad Rifqi Musyaffa’
Referensi:
- Sunan at-Tirmidzi karya Imam Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi rahimahullah (209-279 H).
- Silsilah al-Ahadits as-Shahihah wa Syai’ min Fiqhiha wa Fawaidiha karya Imam Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh rahimahullah (1332 – 1420 H / 1914 – 1999 M).
- At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shaghir karya Imam Muhammad bin Ismail bin Shalah as-Shan’ani rahimahullah (1099-1182 H)
Footnotes
- HR. at-Tirmidzi no. 3432 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad bin al-Haj dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 602.
- At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shaghir (10/226)
(من رأى) بعينه أو سمع به، إن حمل رأى على القلبية (مبتلى) في دينه أو دنياه أو بدنه
- Idem
(على كثير ممن خلق تفضيلًا) شكرا لله على السلامة من الشرور
- Idem
قال العلماء: ينبغي أن يقول هذا سرًّا بحيث يسمع نفسه إلا أن يكون الابتلاء بمعصية فلا بأس بإسماع غيره عساه يكون [4/ 241] زجرًا له
