oleh

Benarkah Mengucapkan Syahadat tanpa Beramal tetap Masuk Jannah?

-Fatwa-3,672 views

Benarkah mengucapkan syahadat tanpa beramal tetap masuk jannah? Sebuah pertanyaan kritis yang menbutuhkan jawaban. Maka di sini kami akan bawakan fatwa salah seorang ulama yang harapannya bisa memberikan jawaban atas pertanyaan di atas.

Pertanyaan

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya,

Soal yang terakhir: “Apakah seseorang yang mengucapkan Syahadat “Laa ilaha illallah” tanpa beramal apapun bisa masuk Surga? Yakni ia hanya sebatas mengucapkannya dengan lisan (tanpa beramal). Sebab didapati sebuah hadis yang bermakna demikian. Sebagaimana di dalam hadis qudsi, Allah berkata, “Demi keagungan dan kemuliaanku, aku akan keluarkan setiap hamba yang mengucapkan “laa ilaha illallah” dari neraka.” Semoga Allah membalas anda wahai Syaikh.

Jawaban 

“Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam. Shalawat serta salam tak hentinya tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallalllahu alaihi wa sallam, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

Kalimat “laa ilaha illallah” adalah kalimat yang agung. Andaikan kalimat ini ditimbang dengan langit dan bumi, niscaya kalimat tersebut akan lebih berat (dari langit dan bumi).

Makna kalimat ini yaitu, “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata.” Maka setiap yang disembah selain Allah adalah batil. Allah Ta’ala berkata,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ 

“Yang demikian itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu satunya dzat yang berhak diibadahi dengan benar dan yang diibadahi selainnya adalah batil (salah dan tertolak) dan bahwasanya Allah dialah dzat yang maha tinggi lagi maha besar.” [Al-Hajj: 62]

Ketahuilah bahwa ibadah tak hanya terbatas pada ruku’ dan sujud. Yakni seorang manusia bisa saja menyembah selain Allah Ta’ala walaupun dia tak melakukan ruku’ dan sujud kepadanya. Akan tetapi, (termasuk dalam ibadah) apabila dia mengutamakan kecintaan kepada selain Allah di atas kecintaan kepada Allah Ta’ala, lebih mengagungkan selain Allah Ta’ala dibandingkan pengagungan kepada Allah Ta’ala, dan menganggap ucapan selain-Nya lebih agung dibandingkan ucapan Allah. 

Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam bersabda,

.تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْلَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْصَةِ. إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamilah1, celakalah hamba khamishah2. Jika diberikan, ia merasa senang, dan jika tidak diberi, ia murka. Celaka dan terpuruklah dia, dan jika tertusuk oleh duri kecil, tidak ada yang bisa ia perbuat.” 3

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dinar, dirham, khamilah, dan khamishah memiliki hamba, padahal mereka (yang dikatakan sebagai hamba) tidak beribadah kepada harta-harta ini, tidak pula melakukan ruku’ dan sujud padanya, akan tetapi mereka mengagungkannya melebihi pengagungan mereka kepada Allah Ta’ala. Makna inilah yang terdapat di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّهِ 

“Di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya). mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah ta’ala, sedangkan orang-orang yang beriman kecintaan mereka kepada Allah sangatlah kuat” [Al-Baqarah: 165]

Sehingga kalimat ini (laa ilaha illallah) adalah kalimat yang sangat agung dan mengandung makna berlepas diri dari setiap kesyirikan, dan mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. Jika seseorang mengucapkannya dengan lisan dan meyakini konsekuensinya dengan hati, maka dia telah mengucapkannya dengan sebenar-benarnya.

Oleh karena itu, sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Wahai rasulullah, manusia manakah yang paling bahagia dengan syafaatmu?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Orang yang mengucapkan “laa ilaha illallah” tulus (ikhlas) dari hatinya.”

Sahabat As’ad bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kepada neraka untuk membakar orang-orang yang mengucapkan “laa ilaha illallah” dalam keadaan mereka mengharapkan wajah Allah (melakukannya dengan Ikhlas).”

Oleh karena itu harus ada keikhlasan (tatkala mengucapkannya). Adapun orang yang mengucapkannya dengan lisan tapi tidak meyakini di dalam hatinya, maka (kalimat tersebut) tidak akan memberikan manfaat kepadanya, karena orang-orang munafik menyebut nama Allah dan mengucapkan “laa ilaha illallah” sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلاً

“Apabila mereka (orang-orang munafik) menegakkan shalat, mereka melaksanakannya dengan bermalas-malasan dan bermaksud riya’ di hadapan manusia, serta tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali” [An-Nisa: 142]

Kaum munafikin juga mempersaksikan keabsahan risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik telah mendatangimu, mereka akan berkata: “Kami bersaksi bahwa engkau (Nabi Muhammad) adalah utusan Allah” Allah Ta’ala maha mengetahui bahwa Engkau benar-benar adalah utusan Allah, dan Allah Ta’ala bersaksi bahwa sungguh orang-orang munafik benar-benar berdusta.” [Al-Munafiqun: 1]

Dua kalimat syahadat tak akan bermanfaat bagi mereka, karena mereka tidaklah mengatakannya dengan sepenuh hati serta tidak dengan keikhlasan. Maka siapa saja yang mengucapkan kalimat tersebut (syahadat) tanpa keikhlasan maka tidak akan memberikannya manfaat, justru semakin menjauhkannya dari Allah Ta’ala.

Karenanya kami memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kami dan saudara-saudara kami seislam keyakinan terhadap kalimat tersebut serta taufiq untuk mengamalkan konsekuensinya. Sungguh Allah Ta’ala maha mampu atas segala suatu. 4

Sekian nukilan fatwa dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Mudah-mudahan apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita serta orang-orang di sekeliling kita. (ZDN/LTC/ATH)


Baca Juga: Apakah Pasti Masuk Surga Mengucapkan Kalimat Tauhid di Akhir Hayat


Referensi:

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Shahih al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim al-Bukhari rahimahullah (W. 256 H)
  3. Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi rahimahullah (W. 261)
  4. Fatawa Nur Alad Darb karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah (W. 1421 H)

 

Footnotes

  1. sejenis kasur mewah
  2. sejenis pakaian
  3. HR. Bukhari no. 2730 dari sahabat Abu Hurairah
  4. سؤاله الأخير:
    هل من قال: لا إله إلا الله بدون أن يعمل أي عمل يدخل الجنة، أي قالها بلسانه، لأنه يوجد حديث فيما معناه يقول: «وعزتي وجلالى لا أخرجن من النار كل من قال لا إله إلا الله» والله أعلم. ولكم جزيل الشكر.

    الجواب:

    الشيخ: الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. كلمة لا إله إلا الله كلمة عظيمة، لو وزنت بها السماوات والأرض لرجحت بهن، ومعناها لا معبود بحق إلا الله، فكل ما يعبد  من دون الله فهو باطل؛ لقول الله تعالى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ﴾

    العبادة لا تختص بالركوع أو السجود، يعني أن الإنسان قد يعبد غير الله دون أن يركع له ويسجد، ولكن يقدم محبته على محبة الله، وتعظيمه على تعظيم الله، ويكون قوله اعظم في قلبه من قول الله، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: ««تعس عبد الدينار، تعس عبد بالدرهم، تعس عبد الخميلة، تعس عبد الخميصة، إن أعطي رضي، وإن لم يعطَ سخط»، تعس وانتكس، وإذا شئت فلا انتقش، فجعل للدينار عبداً، وللدرهم عبداً، وللخميلة عبداً، وللخميصة عبداً، الخميلة الفراش، والخميصة الكساء، مع أن هؤلاء لا يعبدون الدرهم والدينار، لا يركعون له ولا يسجدون له، لكنهم يعظمونه أكثر من تعظيم الله عز وجل، وإلى هذا يشير قوله تعالى: ﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّهِ﴾

    فهذه الكلمة، كلمة عظيمة فيها البراءة من كل شرك، وإخلاص العبودية، والعبادة لله عز وجل، فلو قالها بلسانه وقلبه، فهو الذي قالها حقا، ولهذا قال أبو هريرة: يا رسول الله من أسعد الناس بشفاعتك، قال:  «من قال لا إله إلا الله خالصا من قلبه». قال أسعد بن مالك عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «إن الله حرم على النار من قال: لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله». فلا بد من الإخلاص، فأما من قالها بلسانه دون أن يوقن بها قلبه، فإنها لا تنفعه؛ لأن المنافقين يذكرون الله ويقولون: لا إله إلا الله، كما قال تعالى: ﴿وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلاً﴾ ويشهدون للنبي صلى الله عليه وسلم بالرسالة، كما قال تعالى: ﴿إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ﴾، فلن تنفعهم شهادة أن لا إله إلا الله، ولا شهادة أن محمداً رسول الله؛ لأنهم لم يقولوا ذلك عن قلب وإخلاص

    فمن قال هذه الكلمة دون إخلاص، فإنها لا تنفعه ولا تزيده من الله تعالى إلا بعداً، فنسأل الله لنا ولإخواننا المسلمين الإيقان بها، والعمل بمقتضاها، إنه على كل شيء قدير.

    Fatawa nur alad darb hal 2 jilid 4

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *