oleh

Stop Menghina Jenggot! Bahaya dan Hukum Mencela Jenggot Menurut Syariat

-Fatwa-4,392 views

Sangat disayangkan, ada sebagian pihak yang fobia dengan syariat berjenggot. Bahkan yang lebih menyedihkan, di antara mereka ada yang menghina jenggot atau mengolok-olok syariat mulia tersebut. 

Padahal Memelihara jenggot dan tidak memotongnya merupakan perkara yang wajib dalam agama Islam. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan seorang yang berjenggot lebat dan beliau merupakan teladan bagi kita semua selaku umat beliau. Maka hendaknya kita semua bersemangat dalam menjalankan syariat yang wajib ini. 

Lantas, bagaimana hukum Islam dalam menyikapi fenomena ini? Mari simak tulisan berikut.

Fatwa Ulama terkait Hukum Menghina Jenggot

Para ulama telah menjelaskan hukum terkait menghina jenggot. Di antara penjelasan tersebut adalah fatwa al-lajnah ad-daimah sebagai berikut:

Pertanyaan

Jenggot adalah salah satu sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sikap masyarakat terhadapnya bermacam-macam. Di antara mereka ada yang mencukurnya, ada yang mencabutnya, ada yang memendekkannya, bahkan ada juga yang mengingkarinya.

Sebagian dari mereka ada meyakini bahwa itu hanyalah sunnah, yang bermakna jika dilakukan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Sebagian orang bodoh mengatakan, “Seandainya ada kebaikan pada jenggot, pasti ia tidak akan tumbuh di tempat yang sama dengan rambut kemaluan.” (ia menyamakan jenggot dengan rambut kemaluan) Semoga Allah menjadikan mereka orang yang buruk.

Lalu bagaimana hukum terhadap sikap-sikap mereka tersebut? Dan bagaimana pula hukum bagi orang yang mengingkari salah satu ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawaban

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsi wal-Ifta’ menjawab,

Dalil yang Memerintahkan untuk Memelihara Jenggot

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih telah menunjukkan kewajiban memelihara jenggot, membiarkannya tumbuh lebat, dan memanjangkannya, serta menunjukkan keharaman mencukur dan memangkasnya. 

Sebagaimana disebutkan di dalam ash-shahihain dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَصُّوا الشَّوَارِبَ وأَعْفُوا اللِّحَى وَخَالِفُوا المُشْرِكِينَ

“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot, selisihilah orang-orang musyrik.” 1

Dan dalam Shahih Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَصُّوا الشَّوَارِبَ وأَرْخُوا اللِّحَى وَخَالِفُوا المَجُوسَ

“Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot, selisihilah orang-orang Majusi.” 2

Kedua hadits ini beserta hadits-hadits lain yang memiliki makna serupa, semuanya menunjukkan kewajiban memelihara jenggot dan membiarkannya tumbuh lebat, serta keharaman mencukur atau memangkasnya. Sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.

Barangsiapa yang menganggap bahwa memelihara jenggot hanyalah sunnah, yakni mendapat pahala jika dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan, maka ia telah keliru dan menyelisihi hadits-hadits yang shahih. 

Hukum Memelihara Jenggot adalah Wajib

Karena hukum asal dari perintah adalah wajib sedangkan hukum asal dari larangan adalah haram. Tidak boleh bagi siapa pun untuk menyelisihi makna zhahir (yang tampak) dari hadits-hadits shahih kecuali dengan dalil yang menunjukkan adanya makna lain dari makna yang tampak tersebut. Dan tidak ada dalil yang dapat memalingkan makna hadits-hadits ini dari makna zhahirnya.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, 

أَنَّهُ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ مِنْ طُولِهَا وَعَرْضِهَا

“Bahwa beliau biasa mengambil (memotong) dari jenggotnya bagian panjang dan lebarnya.” 3

Maka hadits tersebut adalah hadits yang batil dan tidak shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena pada sanad hadits tersebut terdapat seorang perawi yang dituduh berdusta.


Baca Juga: Benarkah Memotong Jenggot Haram?


Menghina Jenggot Adalah Kemungkaran yang Besar

Adapun orang yang menghina jenggot dan mengolok-oloknya serta menyerupakannya dengan rambut kemaluan, maka ia telah melakukan kemungkaran besar yang menyebabkan ia keluar dari agama Islam (murtad). Karena mengolok-olok sesuatu yang telah ditunjukkan oleh al-Qur’an atau sunnah Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan kekufuran dan kemurtadan.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian mengolok-olok?” (At-Taubah: 65)

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Janganlah kalian meminta udzur, sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (At-Taubah: 66) 4

Setelah kita mengetahui hukum dari menghina jenggot di atas, hendaknya kita senantiasa berhati-hati agar tidak terjatuh kepada perbuatan tersebut. Sepantasnya bagi kita untuk menghormati syariat ini dan mengamalkannya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua agar dapat mengamalkan seluruh perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Aamiin. 

Alih Bahasa: Ahmad Daffa’ Faadhilah

Referensi: Website Resmi al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsi wal-Ifta’

Footnotes

  1. HR. al-Bukhari no. 5893 (Fathul Bari) dan Muslim no. 259

  2. HR. Muslim no. 260
  3. HR. At-Tirmidzi no. 2763

  4. Lihat kitab Fatawa al-lajnah ad-daimah fatwa no.2195, hlm.40-42, juz kedua

    Teks Arab

    ‌‌الاستهزاء باللحية منكر عظيم يوجب الردة

    فتوى رقم (2196):

    السؤال

    اللحية سنة من سنن النبي صلى الله عليه وسلم، وهناك أناس كثير: منهم من يحلقها، ومنهم من ينتفها، ومنهم من يقصر منها، ومنهم من يجحدها، ومنهم من يقول: إنها سنة يؤجر فاعلها ولا يعاقب تاركها، ومن السفهاء من يقولون: لو أن اللحية فيها خير ما طلعت مكان العانة، قبحهم الله، فما حكم كل واحد من هؤلاء المختلفين؟ وما حكم من أنكر سنة من سنن النبي صلى الله عليه وسلم؟

    الجواب

    قد دلت سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم الصحيحة على وجوب إعفاء اللحى وإرخائها وتوفيرها، وعلى تحريم حلقها وقصها، كما في الصحيحين عن ابن عمر رضي الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال «قصوا الشوارب وأعفوا اللحى، خالفوا المشركين (1) » وفي [صحيح مسلم] ، عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي الله صلى الله عليه وسلم قال: «جزوا الشوارب وأرخوا اللحى، خالفوا المجوس (2)» وهذان الحديثان وما جاء في معناهما من الأحاديث كلها تدل على وجوب إعفاء اللحى، وتوفيرها، وتحريم حلقها وقصها، كما ذكرنا، ومن زعم أن إعفاءها سنة يثاب فاعلها ولا يستحق العقاب تاركها فقد غلط وخالف الأحاديث الصحيحة؛ لأن الأصل في الأوامر الوجوب، وفي النهي التحريم، ولا يجوز لأحد أن يخالف ظاهر الأحاديث الصحيحة إلا بحجة تدل على صرفها عن ظاهرها، وليس هناك حجة تصرف هذه الأحاديث عن ظاهرها.

    وأما ما رواه الترمذي، عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم «أنه كان يأخذ من لحيته من طولها وعرضها (3)» فهو حديث باطل لا صحة له عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ لأن في إسناده راويا متهما بالكذب.

    أما من استهزأ بها وشبهها بالعانة فهذا قد أتى منكرا عظيما يوجب ردته عن الإسلام؛ لأن السخرية بشيء مما دل عليه كتاب الله أو سنة رسوله محمد صلى الله عليه وسلم تعتبر كفرا وردة عن الإسلام؛ لقول الله عز وجل: {قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ} (1) {لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ}

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *