Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati ketika tertimpa musibah, agar tidak melampaui batas dalam mengekspresikan kesedihan sehingga terjatuh ke dalam perbuatan an-Niyahah yang dilarang oleh syariat.
Apa yang dimaksud dengan Meratapi Mayit atau an-Niyahah?
Secara bahasa, an-Niyahah berasal dari kata نَاحَ- يَنُوحُ – نَوْحًا وَنِيَاحَةً yang artinya meratap (dengan mengeraskan suara tangisan).
Adapun secara istilah syar’i, an-niyahah atau niyahah adalah perbuatan meratapi mayit berupa menangis dengan suara keras dan jeritan, memukul pipi atau anggota badan, merobek pakaian dan semisalnya, serta menyebut-nyebut kebaikan dan jasa si mayit dengan cara ratapan yang berlebihan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah:
واعلم أن النياحة: رفع الصوت بالندب، والندب: تعديد النادبة بصوتها محاسن الميت
“Ketahuilah bahwa an-Niyaḥah adalah meninggikan suara dengan ratapan, dan ratapan adalah menyebut-nyebut kebaikan mayit dengan suara keras.” (Al-Adzkar, hlm. 147)1
An-Niyahah termasuk kebiasaan kaum jahiliyah ketika mengalami musibah ditinggal mati oleh orang yang dicintai. Perbuatan ini menunjukkan keluh kesah yang bertentangan dengan kesabaran yang diperintahkan ketika menghadapi musibah bahkan bisa termasuk bentuk tidak ridha terhadap takdir yang telah Allah tetapkan. 2
Adapun contoh yang telah datang dari nash hadits adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ
“Bukan termasuk golongan kami bagi siapa yang memukul-mukul pipinya, merobek-robek bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliyah”3
Dalil-Dalil Larangan Meratapi Mayit
Para ulama terkemuka sepakat (ijma’) bahwa meratapi mayit hukumnya haram, baik dilakukan laki-laki maupun perempuan. 4
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ
“Dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.” [Al-Mumtahanah: 12]
Berkata Ummu ‘Athiyyah: “Ketika ayat ini turun, termasuk di dalamnya adalah larangan meratapi mayit. Maka aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, kecuali keluarga fulan, karena mereka dahulu membantuku di masa jahiliyyah, sehingga aku harus membantu mereka” Beliau pun berkata: “kecuali keluarga fulan.”6
Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ
“Bukan termasuk bagian dari kami orang yang memukuli pipinya, merobek-robek bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliyah”7
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ النِّيَاحَةِ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dari meratapi mayit”8
Apakah Pelaku an-Niyahah Termasuk Kafir?
Para ulama menjelaskan bahwa apabila seseorang melakukan perbuatan Niyahah karena luapan emosi dan kelemahan iman tanpa disertai keyakinan yang menyimpang, maka perbuatan tersebut termasuk dosa besar yang wajib ditaubati. Namun perbuatan ini sangat berbahaya karena dapat mengandung unsur penentangan terhadap qadha dan qadar, dan jika sampai pada tingkat menolak dan membenci ketetapan Allah, maka hal itu dapat mengantarkan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَٰلَهُمْ
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Allah turunkan, lalu Allah menghapuskan amal-amal mereka. (Muhammad: 9)
Di sisi lain Nabi shallallahu alaihi wasallam mengecam siapa yang menentang ketetapan takdir Allah sebagaimana dalam hadits :
فمن رضي فله الرضى ومن سخط فله السخط
“Barangsiapa yang ridha maka baginya ridha Allah, dan siapa yang murka baginya murka Allah.”
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipinya, merobek-robek bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliyah”10
Namun saudaraku, janganlah meremehkan satu dosa pun hanya karena bukan syirik, karena Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” [An-Nisa’:48]
Perhatikan dalam ayat ini, Allah mengaitkan pengampunan dosa dengan kehendak-Nya (tahta masyi’ah). Artinya, seorang yang bertauhid sekalipun, jika terjatuh pada perbuatan dosa besar dan wafat dalam keadaan belum bertaubat, maka bisa saja Allah hukum dia di neraka sesuai kehendak-Nya.
Oleh karena itu, wajib bagi setiap hamba Allah untuk berhati-hati terhadap beragam dosa. Apabila seseorang tergelincir, hendaklah ia segera bertaubat dengan sebenar-benarnya, memohon ampunan dan kembali kepada Allah.
إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah:182]
Baca juga: Dosa yang Tidak Diampuni dan yang Tahta Masyi’ah
Dampak dan Ancaman Terhadap Pelaku An-Niyaḥah
Berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, beberapa dampak dan ancaman lain terhadap pelaku an-Niyahah, diantaraya:
- an-Niyahah termasuk dosa besar yang bisa menghantarkan seseorang jatuh pada kekufuran.
Meratapi mayit dengan suara keras atau perilaku berlebihan merupakan perbuatan dosa besar yang sangat dilarang dalam syariat, karena menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah. - Dikeluarkan dari golongan umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Berpakaian cairan hitam kental yaitu “Ter” dan berbaju penyakit kudis di hari kiamat. Gambaran ini menunjukkan beratnya azab bagi pelaku an-Niyaḥah yang tidak segera bertaubat.
Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Menangis Saat Kematian Ibrahim?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menangis atas kematian putranya, Ibrahim. Suatu hari, beliau bersama Anas bin Malik mendatangi Abu Saif (pengasuh Ibrahim). Beliau menggendong Ibrahim, menciumnya, dan ketika Ibrahim menghembuskan nafas terakhir, air mata beliau berlinang.
Maka ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau melakukan apa yang mereka lakukan?”
Beliau menjawab, “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang).”
Kemudian beliau melanjutkan, “Mata berlinang, hati bersedih, tetapi aku tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah. Sungguh, berpisah denganmu wahai Ibrahim amat menyedihkan.” 11
Al-Husain bin Muhammad Ath-Thibi rahimahullah adalah seorang ulama besar dalam bidang hadits, tafsir, dan bahasa Arab (wafat 743 H), penulis kitab al-Kāsyif ‘an Ḥaqā’iq as-Sunan, yaitu syarah atas Mishkāt al-Maṣābīḥ, yang dikenal dengan ketelitian ilmiahnya dalam menjelaskan lafaz-lafaz hadits dan kaidah bahasa Arab.
Beliau menjelaskan ucapan ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bahwa ungkapan tersebut mengandung makna keheranan menurut kaidah bahasa, seakan-akan beliau merasa heran karena manusia biasanya tidak sabar ketika menghadapi musibah, sementara Nabi shallallahu alaihi wasallam menampakkan sikap yang tampak serupa; padahal beliau selalu memotivasi untuk bersabar dan melarang keluh kesah, sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa hal itu adalah rahmah, yaitu kelembutan hati terhadap anak, bukan keluh kesah sebagaimana yang disangka. 12
Perbedaan Antara Tangisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Meratapi Mayit
Memahami dalil dengan benar merupakan perkara yang sangat penting agar seorang muslim tidak keliru dalam membedakan antara perbuatan yang dibolehkan dan yang terlarang. Karena pemahaman yang benar dan terbimbing merupakan tahapan ketiga dalam menuntut ilmu, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Mubarak13 (wafat 181 H):
“Tahapan ilmu yang pertama adalah niat, kemudian mendengar dengan seksama, pemahaman, menghafal, mengamalkan, dan terakhir menyebarkannya.”
14 Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas perbedaan antara tangisan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang dibolehkan dan meratapi mayit (niyāḥah) yang terlarang.
Tangisan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah tangisan kasih sayang dan kelembutan hati tanpa disertai keluh kesah, sedangkan meratapi mayit adalah meninggikan suara dengan ratapan dan penyebutan keutamaan mayit yang menunjukkan sikap tidak sabar dan dapat menyeret kepada ketidakridhaan terhadap takdir Allah Ta‘ala. Perbuatan ini termasuk dosa besar dan dapat menjadi sebab seseorang terjatuh kepada kekufuran apabila disertai penentangan terhadap ketetapan Allah.Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِنَّمَا نَهَيْتُ عَنِ النَّوْحِ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجْرَيْنِ صَوْتٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَمَزَامِيْرُ شَيْطَانِ وَصَوْتٌ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ خَمْشُ وُجُوْهٍ وَشَقُّ جُيُوْبٍ وَرَنَّةُ شَيْطَانَ
“Sesungguhnya aku melarang dari ratapan yang berupa dua suara yang bodoh dan fajir: yaitu suara ketika mendapatkan nikmat berupa permainan, kelalaian, dan seruling-seruling setan; serta suara ketika tertimpa musibah berupa mencakar-cakar wajah, merobek-robek pakaian, dan jeritan setan.”15
Adapun yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tangisan biasa, sebagaimana sabda beliau,
أَلَا تَسْمَعُوْنَ أَنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ العَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ القَلْبِ وَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ، وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ
“Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengazab karena air mata yang berlinang atau kesedihan hati, tetapi mengazab atau merahmati karena ini (beliau menunjuk lisannya). Dan mayit diadzab karena tangisan keluarganya atasnya.” 16
Dengan demikian, jelas perbedaan antara tangisan yang diperbolehkan (kasih sayang yang wajar) dan meratapi yang dilarang. Semoga pembaca memahami dengan baik dan benar sesuai yang dikehendaki syariat. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.
Sikap yang Baik dalam Menghadapi Kematian Orang yang Dicintai
Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bersabar saat menghadapi musibah kematian. Tidak mengapa menangis dengan meneteskan air mata, namun tetap mengucapkan ucapan yang Allah ridhai serta tidak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan ketidakrelaan terhadap takdir Allah Ta’ala, tidak menyakiti diri sendiri (seperti memukul wajah), dan tidak menyakiti orang lain.
Ingatlah Firman Allah Ta’ala,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (al-Baqarah:155-156)
(MSH/ASP/IWU)
Penulis: Syarif Karawang
Referensi:
- Al-Qur’an Al-Karim
- Shahih al-Bukhari dan Muslim rahimahullah
- Shahih Muslim rahimahullah
- Taysirul ‘Azizil Hamid: Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah rahimahullah
- Majmu’ Fatawa
- Musnad Imam Ahmad rahimahullah
- Sunan Abu Dawud
- I’anatul Mustafid: Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah
- Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi: Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah
- Syu’abul Iman: Imam Al-Baihaqi rahimahullah
Footnotes
-
«الأذكار للنووي ت الأرنؤوط» (ص147):
«- وروينا في سنن أبي داود، عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه، قال: لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم النائحة والمستمعة.
واعلم أن النياحة: رفع الصوت بالندب، والندب: تعديد النادبة بصوتها محاسن الميت، وقيل: هو البكاء عليه مع تعديد محاسنه.
قال أصحابنا: ويحرم رفع الصوت بإفراط في البكاء.
وأما البكاء على الميت من غير ندب ولا نياحة، فليس بحرام.» - Dikatakan oleh Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah rahimahullah di dalam kitabnya (taysiirul ‘aziizil hamiid) syarah dari kitab tauhid,
قوله: “والنياحة على الميت” أي: رفع الصوت بالندب بتعديد شمائله لما في ذلك من التسخط على القدر والجزع المنافي للصبر
- Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dan lafadznya dari al-Bukhari di dalam shahihnya dalam kitab janaiz,
1297 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»
- Dikutip dari kalam Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam Majmu’ fatawa juz. 24, hal. 382,
النِّيَاحَةُ مُحَرَّمَةٌ عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الْمَعْرُوفِينَ
- Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad rahimahullah no. 20796
– حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا عَاصِمٌ، عَنْ حَفْصَةَ، عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللهِ شَيْئًا} [الممتحنة: 12] إِلَى قَوْلِهِ: {وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ} [الممتحنة: 12] ، قَالَتْ: كَانَ مِنْهُ النِّيَاحَةُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِلَّا آلَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُمْ قَدْ كَانُوا أَسْعَدُونِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَا بُدَّ لِي مِنْ أَنْ أُسْعِدَهُمْ، قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِلَّا آلَ فُلَانٍ ” (1)
[/efn-note]
Dalam shahih Muslim Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Orang yang meratapi mayit jika tidak bertaubat sebelum kematiannya, maka akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan mengenakan pakaian dari “Ter” (cairan hitam kental seperti aspal panas dan cair) dan baju dari penyakit kudis.” 5Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya no.934,
– (934) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ، ح وحَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ – وَاللَّفْظُ لَهُ – أَخْبَرَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ، حَدَّثَنَا أَبَانُ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، أَنَّ زَيْدًا، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلَّامٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا مَالِكٍ الْأَشْعَرِيَّ، حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ ” وَقَالَ: «النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ»
- Hadist no.1294. Redaksi sanadnya,
1294 – حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا زُبَيْدٌ اليَامِيُّ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»
- Hadist no.3127. Redaksi sanadnya,
3127 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ حَفْصَةَ، عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا عَنِ النِّيَاحَةِ
[حكم الألباني] : صحيح
- Hadist no.1294.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah adalah seorang ulama besar Ahlus Sunnah pada masa ini, ketua Majelis Ulama Senior Arab Saudi (Hai’ah Kibar al-‘Ulama’) dan juga anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah, yang dikenal luas dengan karya-karya ilmiah dan penjelasannya dalam bidang akidah dan fikih berdasarkan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah.
Ketika menjelaskan lafazh hadits (ليس منا) “bukan termasuk golongan kami”, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Makna yang paling tepat dari lafazh ini adalah bermakna ancaman dan tidak ditafsirkan secara harfiah. Namun kita meyakini bahwa perbuatan niyaḥah tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena terdapat dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa pelaku dosa besar tidak termasuk pelaku syirik dan tidak keluar dari agama. Meratapi mayit termasuk dosa besar, tetapi kedudukannya berada di bawah dosa syirik, sehingga tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.”
9 Di dalam kitab beliau (I’aanatul mustafiid) syarah kitab tauhid dengan redaksi,
وهذه الكلمة “ليس منا” معناها: البراءة ممّن فعل ذلك، ولكن ليس معناها أنه يخرُج من الإسلام، وإنما معناها: التنفير من هذا العمل. وأحسن ما يُقال فيها: أنها من ألفاظ الوعيد، ولا تُفسّر، لكن مع اعتقاد أنّ هذا لا يدل على الخروج من الدين لأدلّة أخرى دلَّت على أن أصحاب الكبائر التي دون الشرك لا يخرجُون من الدين والنياحة من الكبائر، لكنها دون الشرك؛ فلا تُخرِج من الدين
- Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan muslim dan lafadznya dari al-Bukhari, hadist.1303,
حَدَّثَنَا الحَسَنُ بْنُ عَبْدِ العَزِيزِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا قُرَيْشٌ هُوَ ابْنُ حَيَّانَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ القَيْنِ، وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ، فَقَبَّلَهُ، وَشَمَّهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: «يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ»، ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ» رَوَاهُ مُوسَى، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ المُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
- Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar rahimahullah di dalam (Fathul Baarii) syarah Shahih al-Bukhari hal.174 juz.3:
قَالَ الطِّيبِيُّ فِيهِ مَعْنَى التَّعَجُّبِ وَالْوَاوُ تَسْتَدْعِي مَعْطُوفًا عَلَيْهِ أَيِ النَّاسُ لَا يَصْبِرُونَ عَلَى الْمُصِيبَةِ وَأَنْتَ تَفْعَلُ كَفِعْلِهِمْ كَأَنَّهُ تَعَجَّبَ لِذَلِكَ مِنْهُ مَعَ عَهْدِهِ مِنْهُ أَنَّهُ يَحُثُّ عَلَى الصَّبْرِ وَيَنْهَى عَنِ الْجَزَعِ فَأَجَابَهُ بِقَوْلِهِ إِنَّهَا رَحْمَةٌ أَيِ الْحَالَةُ الَّتِي شَاهَدْتَهَا مِنِّي هِيَ رِقَّةُ الْقَلْبِ عَلَى الْوَلَدِ لَا مَا تَوَهَّمْتَ مِنَ الْجَزَعِ انْتَهَى
- Seorang imam besar Ahlus Sunnah dalam bidang hadits, fikih, dan zuhud, yang dikenal sebagai salah satu ulama tabi‘ut tabi‘in dan rujukan para imam setelahnya.
- Diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr rahimahullah (wafat 463 H), seorang imam besar Ahlus Sunnah dari kalangan ulama Andalus yang dikenal sebagai ahli hadits dan fikih mazhab Maliki serta penulis banyak karya ilmiah dalam bidang hadits dan ilmu-ilmu syariat, dalam kitabnya Jāmi‘u Bayānil ‘Ilmi wa Faḍlihī:
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سُفْيَانَ، نا قَاسِمُ بْنُ أَصْبَغَ، نا أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ: «أَوَّلُ الْعِلْمِ النِّيَّةُ ثُمَّ الِاسْتِمَاعُ ثُمَّ الْفَهْمُ ثُمَّ الْحِفْظُ ثُمَّ الْعَمَلُ ثُمَّ النَّشْرُ
- Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi rahimahullah di dalam kitabnya (Syu’abul iman) hal. 241, juz. 7:
أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ومحمد بن موسى قالا: نا أبو العباس محمد بن يعقوب نا أحمد بن عبد الجبار نا يونس بن بكير عن محمد بن عبد الرحمن بن أبي ليلى عن عطاء عن جابر عن عبد الرحمن بن عوف قال:
أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بيدي فانطلق بي إلى النخل فوجد فيه إبراهيم بن رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخذه رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعه في حجره فذرفت عيناه ثم قال: يا بني ما أملك لك من الله شيئا. فقلت له: يا رسول الله تبكي أو لم تنه عن البكاء. قال:
إنما نهيت عن النوح عن صوتين أحمقين فاجرين صوت عند نعمة لعب ولهو ومزامير شيطان وصوت عند مصيبة خمش وجوه وشق جيوب ورنة شيطان. وهذا رحمة ومن لا يرحم لا يرحم. يا أبراهيم لولا أنه أمر حق ووعد صدق وإنها سبيل مأتية لا بد منها حتى يلحق آخرنا أو لنا لحزنا عليك حزنا هو أشد من هذا، وإنا بك لمحزونون تبكي العين ويحزن القلب ولا نقول ما يسخط الرب عز وجل.
- Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam shahihnya hadits.1242,
حَدَّثَنَا أَصْبَغُ، عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ
اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعُودُهُ، مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رضي الله عنهم، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ، فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ، فَقَالَ: (قَدْ قَضَى). قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَبَكَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَكَوْا، فَقَالَ: (أَلَا تَسْمَعُونَ، إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ، وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ، وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ – أَوْ يَرْحَمُ، وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ).
وَكَانَ عُمَرُ رضي الله عنه يَضْرِبُ فِيهِ بِالْعَصَا، وَيَرْمِي بِالْحِجَارَةِ، وَيَحْثِي بالتراب











Komentar