Dalam perjalanan menuntut ilmu, seringkali kita dihadapkan pada momen ujian yang menjadi tolok ukur keberhasilan melalui nilai yang diperoleh. Tidak jarang, perasaan senang menyelimuti ketika nilai tinggi diraih, dan sebaliknya rasa sedih muncul ketika nilai yang didapat kurang memuaskan.
Namun, dalam perspektif Islam, apakah wajar jika kebahagiaan dan kesedihan kita dipengaruhi oleh angka-angka tersebut? Apakah perasaan tersebut mencederai keikhlasan dalam belajar dan beribadah? Lalu, apa dampaknya apabila keikhlasan itu tercederai?
Keikhlasan dalam Belajar Agama: Sebuah Kewajiban dalam Syariat
keikhlasan dalam belajar agama merupakan tuntutan bagi setiap muslim karena beberapa alasan, di antaranya:
- Keikhlasan dalam beribadah merupakan syarat diterimanya amalan di sisi Allah Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang murni untuk-Nya, dan diniatkan untuk mengharapkan (melihat) wajah-Nya.”1
- Memalingkan ibadah (belajar agama) kepada selain Allah Ta’ala menyebabkan ancaman berupa dijauhkan dari surga dan tak dapat memasukinya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يَعْنِي رِيحَهَا
“Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya diniatkan dengannya ikhlas mengharapkan wajah Allah Ta’ala, tetapi ia niatkan hanya untuk memperoleh materi duniawi, niscaya ia tak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.”2
Baca Juga: 5 Tips Meraih Ikhlas dalam Menuntut Ilmu
Apakah Rasa Senang dan Sedih atas Nilai Ujian Mencacati Keikhlasan?
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa keikhlasan adalah kewajiban dalam setiap ibadah. Maka, muncul sebuah pertanyaan, “Apakah perasaan senang ketika mendapatkan nilai tinggi dan sedih saat memperoleh nilai rendah termasuk hal yang mencederai keikhlasan?”
Berikut fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih -salah satu anggota dewan ulama besar Arab Saudi- rahimahullah terkait masalah ini dalam bentuk tanya jawab:
Pertanyaan:
Seorang bertanya kepada syaikh:
Saya seorang pelajar yang suka mendapatkan nilai tinggi dan ingin meraih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang baik. Niat saya juga baik. Apa pendapat Anda tentang perasaan senang ketika mendapat nilai tinggi dan perasaan kesal saat mendapat nilai rendah? Apakah hal ini mencoreng keikhlasan?
Jawaban:
Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah menjawab:
Tampaknya, insyaallah, hal itu tidak mencederai keikhlasan, karena ini adalah hal yang wajar. Manusia secara alami akan merasa senang jika mendapatkan sesuatu yang baik dan merasa sedih jika mendapatkan sesuatu yang buruk. Allah Ta’ala sendiri menyebut hal-hal yang tidak menyenangkan bagi seseorang dengan istilah “keburukan (sayyi’ah)”, maka pasti itu membuatnya merasa sedih. Demikian juga sebaliknya, hal-hal yang baik pasti membuat seseorang senang.
Maka hal ini (rasa senang dengan nilai tinggi dan sedih dengan nilai rendah) tidak memengaruhi keikhlasanmu, jika memang keadaannya seperti yang kamu katakan—bahwa kamu punya niat yang baik.
Namun, jika yang menjadi tujuan utamamu hanyalah nilai atau ijazah, maka itu perkara lain (bukan karena Allah, tapi karena dunia).
Contohnya adalah Sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan satu pertanyaan kepada para sahabat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada satu pohon yang tidak pernah gugur daunnya, dan pohon itu seperti seorang mukmin. Coba sebutkan padaku pohon apa itu?”
Para sahabat pun mulai menebak-nebak dari pohon-pohon yang mereka kenal di padang pasir. Lalu Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dalam hatiku terlintas bahwa itu adalah pohon kurma, tetapi karena saat itu aku masih kecil, aku tidak suka ikut berbicara.”
Kemudian para sahabat berkata: “Beritahu kami, pohon apa itu wahai Rasulullah?”
Maka beliau bersabda: “Itu adalah pohon kurma.”
Lalu Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada anaknya:
“Aku berharap kamu tadi mengatakannya.”
Ini menunjukkan bahwa rasa senang seseorang atas keberhasilan atau hal-hal semacamnya itu tidaklah mengapa (tidak berbahaya atau merusak keikhlasan).3
Kesimpulan dari Fatwa di atas
- Perasaan senang saat mendapat nilai tinggi dan kecewa saat nilai rendah adalah hal yang wajar secara fitrah manusia dan tidak mencederai keikhlasan.
- Selama niatnya baik, yaitu belajar karena Allah Ta’ala dan mengharap manfaat, maka hal itu tidak mencederai keikhlasan.
- Jika tujuan utama hanya mengejar nilai atau ijazah untuk urusan dunia semata, maka itu bisa merusak keikhlasan.
- Dalil dari kisah Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma menunjukkan bahwa keinginan untuk benar atau berhasil bukanlah sesuatu yang tercela, selama tidak mengarah pada riya’ atau ujub.
Maka, semangat dalam belajar dan senang atas hasil yang baik tidak bertentangan dengan keikhlasan, asalkan niat tetap terjaga karena Allah Ta’ala.
Semoga kita diberikan taufik untuk senantiasa ikhlas dalam belajar dan menjauhkan kita dari berbagai bentuk kesyirikan dan niat-niat yang jelek yang dapat mencederai keikhlasan. (ZDN/ASP/AAK)
Penulis: Muhammad Zidan
Referensi:
As-Sunanul Kubra karya Imam Ahmad bin Syu’aib An-Nasai (W. 303 H) rahimahullah
Sunan Abi Dawud karya Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi rahimahullah (W. 275 H)
Al-Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah
Majmu’ Fatawa wa Rasail karya Syaikh Muhammad bin Shalih (W. 1421 H) rahimahullah
Footnotes
- HR. An-Nasa’i no. 3140, disahihkan oleh Imam al-Albani.
- HR. Abu Dawud no. 3664 dan Ahmad no. 8457
-
س ٣١: سئل فضيلة الشيخ– رحمه الله-: أنا طالب أحب أن آخذ درجات عالية ومعدلاً ممتازًا، وأنا مع ذلك نيتي طيبة، فما رأيك في الفرح بالدرجات العالية والغضب من الدرجات
الضعيفة؟ هل هذا خدش للإخلاص؟
فأجاب بقوله: الظاهر إن شاء الله أنه ليس في هذا خدش للإخلاص؛ لأن هذا أمر طبيعي أن الإنسان يسر بالحسنة ويساء بالسيئة، والله تعالى سمى الأشياء التي لا تلائم المرء سماها سيئة، فلابد أن تسوؤه وكذلك الحسنة لابد أن تسره.فهذا لا يؤثر على إخلاصك إذا كان الأمر كما قلت عندك نية طيبة، أما إذا كان همك هو الدرجات، أو الشهادة فهذا شيء آخر، فها هو عبد الله بن عمر بن الخطاب– رضي الله عنه– لما ألقى النبي – صلى الله عليه وسلم – على أصحابه مسألة قال:” إن في الشجر شجرة لا يسقط ورقها وإنها مثل المؤمن فحدثوني ما هي؟ فجعل الصحابة– رضي الله عنهم– يخوضون في أشجار البوادي قال ابن عمر: فوقع في قلبي أنها النخلة، ولكني كنت صغيرًا فما أحببت أن أتكلم (١) ثم قالوا: حدثنا ما هي يا رسول الله؟ قال: “هي النخلة“. وعمر– رضي الله عنه– قال لابنه: “وودت أنك قلتها“، وهذا يدل على أن فرح الإنسان بنجاح وما أشبه ذلك لا يضر
