oleh

Tafsir Surat Al-Fatihah (Bagian Kedua)

Surat al-Fatihah merupakan surat yang paling agung dan mulia dalam al-Qur’an, sehingga mengandung berbagai macam faedah dan ilmu. Mari kita simak kandungan dalam surat al-Fatihah pada pembahasan berikut ini.

Surat Al-Fatihah Mengandung Nilai-Nilai Tauhid

Surat al-Fatihah mengandung berbagai makna yang mulia. Di dalamnya mengandung nilai-nilai tauhid.

  1. Pada permulaan ayat:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.” Ayat ini menunjukkan tauhid pada perbuatan Allah Ta’ala. Yaitu meng-Esakan Allah pada perbuatan-perbuatan-Nya. Seperti: HANYA Allah Yang Maha Pencipta, Maha Menghidupkan dan Mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat, dan Hanya Allah lah penguasa seluruh alam, pemilik hukum dan Yang Maha Mengatur segala sesuatu, serta segala perbuatan Allah yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. Kita wajib meyakininya dan meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini.

  1. Pada ayat:

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai pada hari kiamat.” Ayat ini menunjukkan tauhid pada nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yaitu dengan meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang telah Allah kabarkan dalam Al Qur’an dan telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan dalam hadits-haditsnya. Wajib meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

Wajib meyakininya sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyelewengkannya sedikitpun apalagi menolaknya.

  1. Pada ayat:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Ayat ini menunjukkan tauhid pada perbuatan makhluk dalam semua jenis ibadah. Yaitu menjadikan HANYA Allah lah satu-satunya tujuan dalam segala jenis ibadah seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak boleh memberikan ataupun membagi peribadatan SEDIKITPUN kepada selain Allah. Dengan kata lain tidak boleh beribadah kepada Allah bersamaan dengan beribadah kepada selain Allah Ta’ala, karena semua jenis ibadah hanyalah HAK Allah semata.


Baca Kembali: Apa Arti Tauhid? Penjelasan Ringkas dengan Contoh


Surat Al-Fatihah Mencakup Dua Macam Doa

  1. Doa ibadah.

Doa ibadah adalah segala pujian dan dzikir kepada Allah Ta’ala, diantaranya adalah membaca Al Qur’an, shalat, membaca dzikir harian, dsb.

  1. Doa mas-alah.

Doa mas-alah adalah doa untuk meminta segala kebutuhan kepada Allah Ta’ala. Hal ini terdapat pada ayat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.”

Semua ini adalah permintaan dan doa. Oleh karena itu, disunnahkan ketika selesai membaca surat al-Fatihah untuk mengucapkan (آمين) “Ya Allah, kalbunkanlah.” Mengucapkan (آمين) hanyalah diucapkan ketika berdoa, sedangkan surat al-Fatihah semuanya adalah doa, baik doa ibadah maupun doa mas-alah.


Baca Juga: Doa-doa Harian


Surat Al-Fatihah Mengandung Penetapan Diutusnya Para Rasul

Di dalam surat al-Fatihah terdapat penetapan diutusnya para rasul ‘alaihimus shalatu wassallam. Terkandung dari perkataan-Nya:

رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Rabb semesta alam.” Rabb adalah yang memperbaiki dan mengatur para hamba-Nya.

Konsekuensi dari mengatur para hamba adalah dengan mengutus para rasul untuk memberikan hidayah dan mengajari mereka. Ini merupakan konsekuensi dari rububiyah.

Termasuk konsekuensi hidayah adalah diutusnya para rasul ‘alaihimus shallatu wa sallam, sehingga padanya terdapat penetapan pengutusan para rasul.

Demikian yang bisa kami sampaikan pada pembahasan kedua tentang tafsir surat al-Fatihah, mudah-mudahan bermanfaat. InsyaAllah pada pembahasan berikutnya tentang surat al-Fatihah membantah berbagai kelompok menyimpang. Wallahu A’alam. AAA&AHJ-BIAK

Penulis: Abu Abdillah Anton Purbalingga (dengan sedikit tambahan dari editor)

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait