Rukun Iman Yang Terakhir

oleh

Rukun Iman Yang Terakhir adalah beriman kepada Qada’ dan Qadar; yang merupakan rukun iman yang keenam. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al Hajj: 70)

Beriman kepada qada’ dan qadar mendorong orang untuk beramal shalih dan mengambil berbagai sebab yang bermanfaat dalam mencapai tujuannya disertai penyandaran diri dan hasil kepada Allah Yang Maha Suci.

Tidak ada kontradiksi antara syariat Allah diutusnya para Rasul dan diturunkannya Kitab-kitab dengan dengan Qada’ dan Qadar-Nya.

Berbeda dengan apa yang disangka oleh orang-orang yang suka mengada-ngadakan perkara baru dalam agama dan sangkaan kaum musyrikin yang mereka berkata (sebagaimana dalam firman-Nya):

لَوْ شَاء اللّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلا آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ

“Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin) -Nya”. (An-Nahl: 35)

❌ Mereka tetap di atas kekufuran dengan alasan bahwa Allah telah mentakdirkan hal itu atas mereka. Mereka menyangka apabila Allah telah mentakdirkan kekufuran atas mereka tentulah Allah telah meridhai kekufuran tersebut.

💥 Maka Allah pun membantah mereka. Seandainya Allah ridha  dengan kekufuran mereka niscaya Dia tidak akan mengutus para Rasul untuk mengingkarinya, sehingga Allah berfirman pada penutup ayat di atas:

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاغُ الْمُبِينُ

“maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An-Nahl: 35)

Seorang Mufassir dalam tafsirnya berkata:

“Lalu apabila para Rasul telah menyampaikan perintah dan larangan Rabb mereka kepada mereka kaum musyrikin, sedangkan mereka membantah dengan berargumen kepada para Rasul bahwa kseyirikan mereka itu takdir,  maka tidak ada lagi kewajiban apapun atas para Rasul. Dan hanyalah perhitungan mereka diserahkan kepada Allah ‘azza wa jalla (bukan lagi tugas para Rasul tersebut, pent.).” Taisiirul Kariimir Rahman, hal. 503.

Itulah pembahasan ringkas tentang Rukun Iman yang terakhir. Tentunya sangat penting untuk membahas rukun-rukun iman yang lain serta mengetahui perbedaan makna iman antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan kelompok yang menyimpang. Silahkan baca selengkapnya pada artikel rukun iman.