Home / Berita Islam / Ritual Adat Balia Kembali, Banyak Nyawa Pergi

Ritual Adat Balia Kembali, Banyak Nyawa Pergi

Ritual Adat Balia

Tradisi Ritual Adat Balia pada Festival Nomoni Palu

Sejak tahun 2016 sebuah ritual yang mempertontonkan aksi kesyirikan kembali dihidupkan. Padahal tradisi ini sudah hampir punah sejak kedatangan Islam ke Daerah Palu. Ritual ini dinamakan ritual adat balia.

Upacara ritual adat Balia adalah sebuah ritual pengobatan bersifat nonmedis. Ritual ini dipimpin seorang dukun atau tetua yang disebut Tina Nu Baliya. Dalam ritual ini disuguhkan sesaji yang dilarung ke laut atau dibuang ke gunung.

“Ini ada sesaji inang, gambir, tembakau dan beberapa lainnya. Nenek moyang kami dulu, kalau pesta perkawinan atau pesta adat pasti semua (sesaji) ini ada,” ujar salah seorang anggota tim upacara ritual adat Balia.

Berikut bukti penjelasan yang diposting oleh Kementerrian Pendidikan dan Kebudayaan:

ritual adat balia kemdikbud
Ritual adat balia kemdikbud

(https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/09/upacara-adat-baliya-jinja-kearifan-lokalsuku-kaili-di-palu)

Ritual adat balia ini menurut masyarakat sebenarnya sudah lama lenyap sejak kedatangan para pendakwah Islam ke daerah ini. Namun ritual yang merupakan bagian dari tradisi suku Kaili ini kembali diadakan hanya karena alasan agar warisan ini tidak punah dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Dengan itu dapat mendatangkan wisatawan yang diharapkan sehingga terjadi perputaran uang untuk menambah devisa daerah.

Karena telah dilekati unsur yang menguntungkan bagi sektor pariwisata, maka tradisi yang kental kesyirikan itu dipoles dan dibalut dengan kata “budaya“.

Tentang Ritual Sesaji dalam Islam

Pembaca Islam Hari Ini, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya terkait dengan ilmu tauid dan penerapannya yang benar,  telah kita ketahui bahwa dosa syirik adalah dosa yang sangat besar bahkan palilng besar.

Barangsiapa yang melakukannya dan mati dalam keadaan belum bertaubat, maka terhapuslah seluruh amalannya, dan ia akan kekal di neraka selama-lamanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48)

Prosesi ritual sesaji yang disertai penyembelihan hewan untuk dipersembahkan kepada berhala merupakan perbuatan syirik. Karena penyembelihan termasuk ibadah yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya bagi Allah. Allah Ta’ala telah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanya bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya.” (al-An’am: 162)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan:

Allah Ta’ala mengabarkan keadaan musyrikin yang melakukan peribadahan kepada selain Allah. Mereka melakukan penyembelihan hewan yang ditujukan kepada selain-Nya.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku (penyembelihanku), hanya bagi Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya,” ini selaras dengan firman Allah,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka, shalatlah karena Rabb-mu dan berkurbanlah (sembelihlah karena-Nya pula).” (al-Kautsar: 2)

Sungguh, orang-orang musyrikin beribadah kepada berhala-berhala dan menyembelih pun ditujukan kepada berhala. Karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan agar menyelisihi mereka dan mengarahkan maksud, niat, dan tekad semata ikhlas ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala. (Tafsir al-Qur’an al Azhim, al-Hafizh Ibnu Katsir, 3/425)

Begitupun telah datang hadits tentang seseorang yang Masuk Neraka karena Seekor Lalat

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat. Ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki sesembahan selain Allah Ta’ala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk sesembahan tersebut.

Mereka berkata kepada salah satu di antara dua lelaki itu, ‘Berkorbanlah.’

Dia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.”

Mereka lalu berkata, “Berkorbanlah walaupun dengan seekor lalat.”

Dia pun berkorban dengan seekor lalat sehingga mereka pun memperbolehkannya lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah, dia masuk neraka.

Mereka juga berkata kepada lelaki yang kedua, “Berkorbanlah.’”

Dia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah Ta’ala.” Mereka pun memenggal lehernya dan karena itulah dia masuk surga.”

(HR. Ahmad dalam az-Zuhd [no. 15 & 16], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [1/203], dari Thariq bin Syihab, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu secara mauquf dengan sanad yang sahih)

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa tradisi atau ritual semacam ini adalah tindakan yang sangat berbahaya.

Perbuatan yang mereka lakukan bukan menolak bala, tetapi justru mengundang murka Allah Ta’ala.

Ritual Adat Balia Kembali, Banyak Nyawa Pergi

Terkait dengan musibah gempa dan tsunami palu di hari pelaksanaan ritual adat Balia, kita tidak mengingkari kaitan sebab musabab, lempengan dalam tanah, tanah yang kandungan airnya banyak, dll dari teori-teori ilmu alam.

Tapi, siapa yang mengatur sebab musabab tersebut, kalau anda seorang muslim tentu anda akan menjawab, ‘Allah’.

Allah telah menjelaskan di dalam Al Qur’an:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum: 41)

“Disebabkan karena perbuatan manusia,” Maknanya dengan sebab apa yang manusia lakukan dari kemaksiatan dan kekafiran. [Tafsir Ibnu Juzai]

Setelah ayat diatas Allah mengatakan:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Ar-Rum: 42)

Sehingga dapat kita ketahui, dalam ayat ini Allah menejelaskan bahwa mereka diazab karena syirik. Andai manusia senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, tentu Allah akan perintahkan alam dengan aturan yang membawa berkah, Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Kalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Memang, kita tidak bisa menentukan dan memastikan, bahwa bencana ini sebabnya adalah dosa itu, dst. Akan tetapi, saat  kita melihat dengan nyata bahwa syirik besar banyak terjadi, penyembelihan hewan bukan karena Allah, sesajen itu dilarung ke laut, atau ditanam di tanah.

Doa dipanjatkan kepada selain Allah. Rasa takut kepada selain Allah menghantui masyarakat sehingga mereka mendekatkan diri -dengan berbagai ritual- kepada sesuatu yang dianggap penunggu tempat tertentu.

Maksiat pun merebak, zina dan segala yang terkait dengannya, LBGT, narkoba, penipuan, riba dan masih banyak lagi yang lain.

Banyak pula orang yang melakukan dosa dalam keadaan tidak takut kepada Allah, dosa diremehkan, syariat dilecehkan. Saat itulah datang bencana, apakah kita akan mengatakan bencana itu tidak ada kaitannya dengan dosa?!. Beginikah ucapan seorang muslim yang beriman dengan ayat-ayat Allah?!.

Bukankan Allah berfirman:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka tiap-tiap mereka Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al Ankabut: 40)

Seorang mukmin akan selalu berada dalam keadaan harap dan cemas, ia berharap agar dosa yang dilakukan diampuni, namun disaat yang sama, ia cemas, jangan-jangan dosanya akan menjadi sebab malapetaka.

Maka seorang mukmin akan segera introspeksi diri dan berbenah dengan bertobat kepada Allah, meninggalkan syirik dan maksiatnya agar tidak kembali terulang musibah tersebut.

Ada yang mengatakan: “mengapa mereka yang maksiatnya lebih besar tidak mendapat musibah tersebut, atau bahkan mereka yang di negeri kafir, komunis, atheis tidak terkena musibah tersebut.”!?

Perlu kita ingat, tidak selalu ketika seseorang atau suatu kaum berbuat maksiat lalu seketika itu Allah menghukumnya. Namun ada yang Allah tunda dan ada yang Allah segerakan, semua sesuai hikmah yang Allah inginkan. Bukankah Allah berfirman:

(45)فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (44) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh. (Al Qalam: 44-45)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِى لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

Sesungguhnya Allah benar-benar mengulur-ulur orang yang zhalim, hingga bila Allah mengazabnya Allah tidak kan melepaskannya.” (Hadits Shahih riwayat Al Bukhori)

Maka, kemakmuran orang kafir dan ahli maksiat tidak menunjukkan benarnya perbuatan mereka. Jangan pula dikatakan bencana yang menimpa umat Islam bukan karena dosa mereka.

Sebab, Allah timpakan bencana terhadap umat Islam, sebagai teguran bagi mereka agar mereka segera kembali kepada Allah dan meninggalkan maksiat.

Musibah itu menjadi penghapus dosa-dosa mereka yang bertauhid dan beriman dengan benar, sehingga diakhirat mereka tidak lagi diazab.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُمَّتِى هَذِهِ أُمَّةٌ مَرْحُومَةٌ لَيْسَ عَلَيْهَا عَذَابٌ فِى الآخِرَةِ عَذَابُهَا فِى الدُّنْيَا الْفِتَنُ وَالزَّلاَزِلُ وَالْقَتْلُ

“Umatku adalah umat yang disayangi, tidak akan manimpa umatku azab (berat) di akhhirat. Azabnya di dunia, ujian ujian, gempa-gempa bumi dan pembunuhan.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)

Allahu a’lam.

Baca Juga

Makna Rukun Islam

Makna Rukun Islam Beserta Dalilnya

Sebelumnya, kami informasikan bahwa telah hadir chanel Telegram Islam Hari Ini. Dengan tujuan untuk mempermudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *