oleh

Puasa Wishal, Puasa 2 Hari Berturut-turut, Bolehkah?

Para pembaca rahimakumullah, mungkin Anda pernah mendapati salah seorang yang berpuasa beberapa hari tanpa berbuka. Menahan lapar dan dahaga dalam waktu yang begitu lama, sehingga menimbulkan sifat kagum dan keinginan untuk melakukan hal yang sama. Namun, para pembaca yang mulia, sebuah ibadah itu harus berlandaskan dalil-dalil syar’i. Pertanyaannya, apakah menyambung puasa 2 hari berturut-turut (puasa wishal) ada tuntunannya dalam syari’at islam? Berikut ini penjelasannya.

Apa Itu Puasa Wishal?

Secara bahasa, wishal adalah menyambung sesuatu dengan sesuatu yang lain. Adapun secara istilah, puasa wishal adalah menyambung puasa sehari dengan sehari setelahnya tanpa berbuka. Maksudnya adalah seseorang berpuasa selama kurang lebih 36 jam tanpa berbuka, 24 jam di hari yang pertama kemudian dilanjutkan di hari kedua selama 12 jam (yaitu ketika terbenamnya matahari).1

Hadits Tentang Larangan Berpuasa Wishal

Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تُوَاصِلُوا»، قَالُوا: إِنَّكَ تُوَاصِلُ، قَالَ: «إِنِّي لَسْتُ مِثْلَكُمْ، إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي»، فَلَمْ يَنْتَهُوا عَنِ الوِصَالِ، قَالَ: فَوَاصَلَ بِهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَيْنِ أَوْ لَيْلَتَيْنِ، ثُمَّ رَأَوُا الْهِلَالَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ تَأَخَّرَ الهِلاَلُ لَزِدْتُكُمْ» كَالْمُنَكِّلِ لَهُمْ

“Janganlah kalian berpuasa wishal!” Para Sahabat berkata: Rasulullah, tapi Anda berpuasa wishal. Beliau menjawab, “Keadaanku tidak sama dengan keadaan kalian, di malam hari aku diberi makan dan minum oleh Rabbku.”Para Sahabat belum juga berhenti dari puasa wishal (setelah mereka mendengar penjelasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (yang meriwayatkan hadits) berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpuasa wishal dua hari atau dua malam bersama para Sahabat, kemudian mereka melihat hilal lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “kalaulah hilal (syawal) tertunda maka aku akan tambah bagi kalian (puasa wishal sampai kalian merasa tidak mampu sehingga kalian meminta keringanan untuk tidak mengerjakannya)2.” Rasulullah berbicara kepada para Sahabat sebagai bentuk celaan dan peringatan untuk tidak melampaui batas dalam beragama. (HR. Bukhari no. 7299 di dalam shahihnya).

Hukum Puasa Wishal

Berdasarkan hadits di atas puasa wishal merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan puasa wishal diharamkan bagi umatnya dengan beberapa alasan:

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk berpuasa wishal sedangkan hukum asal dari larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah haram.3
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukumi berpuasa wishal termasuk perbuatan melampaui batas dalam beragama. Sedangkan melampaui batas dalam beragama merupakan perkara yang haram.4

Menyambung Puasa Hingga Tiba Waktu Sahur

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُوَاصِلُوا، فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ، فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ

“Janganlah kalian berpuasa wishal! Jika kalian ingin menyambung puasa kalian maka cukup sampai pada waktu sahur.” (HR. Bukhari no.1967 di dalam shahihnya)

Maka diperbolehkan bagi seseorang untuk menyambung puasanya (tidak berbuka di waktu maghrib) hingga waktu sahur. Akan tetapi berbuka di awal waktu lebih utama dari pada mengakhirkannya hingga waktu sahur sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia (kaum muslimin) akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa ” (HR. Bukhari no.1957 dan Muslim no. 1098 dari Sahabat Sahl radhiyallahu ‘anhu)5

Penutup

Demikanlah para pembaca yang mulia sedikit ulasan terkait dengan puasa wishal. Kesimpulannya, tidak boleh bagi seorang muslim untuk melakukan puasa wishal. Kecuali jika maksudnya adalah melanjutkan puasanya sampai sahur (tidak berbuka di waktu maghrib) maka yang demikian itu boleh. Itupun yang lebih utama adalah berbuka di waktu maghrib. Wallahu A’lam bish shawab (MPS/FAI-ALF)


1 Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikrom 7/136

2 Lihat catatan kaki pada Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalany 4/206 (Maktabah Syamilah)

3 Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikrom 7/142

4 HR. Bukhari no.7241 dan Muslim no.1104 dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu dengan lafadz

لَوْ مُدَّ بِيَ الشَّهْرُ لَوَاصَلْتُ وِصَالًا يَدَعُ المُتَعَمِّقُونَ تَعَمُّقَهُمْ

5 Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikrom 7/144 dan Zadul Ma’ad 2/36

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait