oleh

Model Rambut yang Diperbolehkan dan yang Dilarang

-Fatwa-1.467 views

Pertanyaan:

Bagaimanakah mengatur model rambut bagi laki-laki dan perempuan, adakah sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan tentang tata cara khusus untuk mengatur model rambut tersebut atau larangan terhadap sebagian model tertentu?

Jawaban:

Untuk para wanita, Imam Bukhari menyebutkan bab mengepang rambut wanita menjadi tiga kepang. Kemudian beliau menyebutkan riwayat dengan sanadnya dari Ummu Athiyah radhiallahu ‘anha bahwasanya ia berkata,

((ظَفَرْنَا شَعَرَ بنتِ رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تعني ثلاثة قرون))

“Kami mengepang rambut anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tiga ikatan.” Waqi’ berkata bahwa Sofyan mengatakan, “Pada ubun-ubunya dan dua ikatan di samping kiri dan kanan kepala.”

Mengepang rambut ini diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam sunannya dengan sanad dari Ummu Athiyah. Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, mandikanlah ia dengan guyuran sebanyak bilangan ganjil dan kepanglah rambutnya beberapa ikatan.”

Dalam kitab Mushannaf Abdur Razaq dengan sanadnya dari Hafshah, ia berkata, “Kami mengepang dengan tiga kepangan, satu ikatan pada ubun-ubun dan dua ikatan di samping kiri dan kanan kepala, dan kepangan itu kami sampirkan ke belakang.”

Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah berkata, “Ini menunjukkan disukainya menata rambut dan mengepangnya.”

Adapun yang diperbuat oleh sebagian wanita muslimah zaman ini yang mengikat rambut dari bagian samping kepala lalu menggantungkan dan diikat di bagian tengkuk atau mengikat ke atas kepala sebagaimana dilakukan oleh wanita, maka perbuatan ini tidak diperbolehkan karena menyerupai wanita kafir. Imam Ahmad dan Abu Dawud telah meriwayatkan dengan sanadnya masing-masing dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((مَن تَشَبَّهَ بقَوْم فَهُوَ مِنهُمْ))

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka.” Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hafidz al-‘Iraqi. Ahmad bin Abdul Halim berkata, sanadnya bagus. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, sanadnya hasan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu –dalam hadits yang panjang- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنفَان مِن أَهل النَّار لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذنَاب الْبَقَر يَضربُوْنَ بهَا النَّاس، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَاريَاتٌ مَائِلاَتٌ ممِيْلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُختِ الْعِجَافِ لاَ يَدْخُلنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجدْنَ ريْحَهَا وَإِن ريْحَهَا لَيُوْجَدُ مِن مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا أَخرجه مسلم

“Dua golongan termasuk ahli neraka dan saya belum pernah melihatnya. Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Sebagian ulama menafsirkan (مَائِلاتٌ مُمِيْلاَتٌ) bahwasannya mereka menyisir rambut seperti sisiran para pelacur dan menyisir orang lain dengan sisiran yang sama.

Kedua: Rambut wanita tidak boleh digundul, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam sunannya dari Ali radhiyallahu ‘anhu dan diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam musnadnya dari Utsman radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ibnu Jarir dari Ikramah, mereka berkata:

((نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَن تَحْلِقَ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para wanita menggundul rambutnya.”
Larangan yang datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti perbuatan itu hukumnya haram selama tidak ada dalil yang menyelisihinya. Mala Ali Qari mengatakan dalam al-Mirqah,((Dilarang menggundul rambut wanita)), karena rambut bagi wanita bagaikan jenggot bagi pria dalam hal bentuk dan keindahannya. Adapun memotong ujung rambut, disebutkan dalam shahih Muslim dari Abu Salamah bin Abdirrahman, ia berkata, “Saya menemuai ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bersama saudara sepersusuannya. Ia bertanya kepada ‘Aisyah tentang cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub. Kemudian ia mengambil tempat air sebanyak satu sha’ dan mulai mandi. Di antara kami dan dia ada penutup.

Ia menyiram kepalanya tiga kali. Abu Salamah berkata, “Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong sebagian dari rambut-rambut mereka. An-Nawawi berkata, berkata al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Telah diketahui bahwasannya para wanita Arab sering membuat gulungan-gulungan dan jambul-jambul. Kemungkinan para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka tidak perlu lagi berhias dan tidak butuh lagi memanjangkan rambut, serta untuk meringankan dalam merawat rambut mereka.”

Inilah yang dijelaskan oleh al-Qadhi ‘Iyadh, bahwasannya mereka (para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) melakukannya setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan di masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pendapat inilah yang diyakini dan salah apabila para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di masa hidup Nabi. Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya memangkas (memendekkan) rambut bagi wanita.

An-Nawawi berkata, berkata al-Qadhi ‘Iyadh, “Yang tampak pada hadits ini, bahwasannya keduanya (yakni: Abu Salamah dan saudara susuan ‘Aisyah) melihat tindakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap rambutnya dan bagian-bagian atas tubuhnya termasuk bagian-bagian yang halal dilihat oleh mahramnya.” ~HN~AAK

(Sumber: Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim no. 284)


 

(284- كيف يسرح الرجل شعره والمرأة أيضًا، وهل يجوز لها قصه أو حلقه)

الأولى: ما كيفية تسريح شعر الرأْس بالنسبة للرجال والنساء وهل ورد شيء من أَحاديث نبي الله صلى الله عليه وسلم بكيفية خاصة لتسريحه أَو نهي عن بعض التساريح؟

والجواب: أَما بالنسبة للنساء فقال البخاري (باب يجعل شعر المرأَة ثلاثة قرون) ثم ساق بسنده عن أُم عطية رضي الله عنها قالت: ((ظَفَرْنَا شَعَرَ بنتِ رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تعني ثلاثة قرون)) وقال وكيع قال سفيان ناصيتها قرنيها. انتهى من البخاري. وهذا التصفير بأَمره صلى الله عليه وسلم لما رواه سعيد بن منصور في سننه بسنده عن أُم عطية قالت لنا قال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِغسِلنَهَا وترًا وَاجْعَلنَ شَعَرَهَا ضَفَائِرَ)) وأَخرج ابن حيان في صحيْحه عن أُم عطية ((إِغلسِلنَهَا ثَلاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا وَاجْعَلنَ لَهَا ثَلاَثَةَ قُرُوْن)) . وفي مصنف عبد الرزاق بسنده عن حفصة قالت: ((ضَفَرْنَا ثَلاَثَةَ قُرُوْن نَاصِيَتَهَا وَقَرْنَيْهَا وَأَلْقَيْنَاهَا خَلفَهَا)) . قال ابن دقيق العبد: فيه استحباب تسريح المرأَة وتضفرها.

وأَما ما يفعله بعض نساء المسلمين في هذا الزمن من فرق شعر الرأْس من جانب وجمعه من ناحية القفا أَو جعله فوق الرأْس كما تفعله نساء الافرنج فهذا لا يجوز، لما فيه من التشبه بنساء الكفار. وقد روى الإِمام أَحمد وأَبو داود بسنديهما إِلى عبد الله ابن عمر رضي الله عنهما أَن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((مَن تَشَبَّهَ بقَوْم فَهُوَ مِنهُمْ)) صحح هذا الحديث ابن حيان والحافظ العراقي، وقال شيخ الإِسلام ابن تيمية: إسناده جيّد، وقال ابن حجر العسقلاني في إِسناده: حسن. وعن أَبي هريرة رضي الله عنه في حديث طويل قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((صِنفَان مِن أَهل النَّار لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذنَاب الْبَقَر يَضربُوْنَ بهَا النَّاس، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَاريَاتٌ مَائِلاَتٌ ممِيْلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُختِ الْعِجَافِ لاَ يَدْخُلنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجدْنَ ريْحَهَا وَإِن ريْحَهَا لَيُوْجَدُ مِن مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا)) أَخرجه مسلم. وقد فسر بعض العلماء قوله ((مَائِلاتٌ مُمِيْلاَتٌ)) بأَنهن يتمشطن المشطة الميلا وهي مشطة البغايا.

ويمشطن غيرهن تلك المشطة وهذه هي مشطة نساء الافرنج ومن يحذو حذوهن من نساء المسلمين.

وأَما شعر رؤوس النساء فلا يجوز حلقه، لما رواه النسائي في سننه بسنده عن علي رضي الله عنه، ورواه البزار بسنده في مسنده عن عثمان رضي الله عنه، ورواه ابن جرير بسنده عن عكرمة رضي الله عنه قالوا: (نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَن تَحْلِقَ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا)) . والنهي إِذا جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم فإِنه يقتضي التحريم ما لم يرد له معارض، قال ملا علي قاري في ((المرقاة)) شرح المشكاة: قوله ((أَن تحلق المرأَة رأْسها)) وذلك لأَن الذوائب للنساء كاللحى للرجال في الهيئة والجمال.

وأَما أَخذ شيء من أَسفل الضفائر ففي صحيح مسلم، عن أَبي سلمة بن عبد الرحمن، قال دخلت على عائشة أَنا وأَخوها من الرضاع

فسأَلها عن غسل النبي صلى الله عليه وسلم من الجنابة، فدعت بإِناء قدر الصاع فاغتسلت وبيننا وبينها ستر، وأَفرغت على رأْسها ثلاثًا، قال: وكان أَزواج النبي صلى الله عليه وسلم يأْخذن من رؤوسهن حتى تكون كالوفرة. قال النووي: قال القاضي عياض رحمه الله: المعروف أَن نساء العرب إِنما كن يتخذن القرون والذوائب ولعل أَزواج النبي صلى الله عليه وسلم فعلن هذا بعد وفاته صلى الله عليه وسلم لتركهن التزين واستغنائهن عن تطويل الشعر وتخفيفًا لمؤونة رؤوسهن. وهذا الذي ذكره القاضي عياض من كونهن فعلنه بعد وفاته صلى الله عليه وسلم لا في حياته كذا قاله أَيضًا غيره وهو متعين، ولا يظن بهن في حياته صلى الله عليه وسلم. وفيه دليل على جواز تخفيف الشعر للنساء. وقال النووي أَيضًا: قال القاضي عياض: ظاهر الحديث أَنهما رأَيا عملها في رأْسها وأَعالي جسدها مما يحل لذي المحرم النظر إِليه من ذات المحرم. والسلام عليكم.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait