oleh

Hukum dan Keutamaan Puasa Tiga Hari Pada Setiap Bulan

Allah Ta’ala mencintai seorang hamba yang senantiasa mengerjakan amalan-amalan sunnah. Baik itu berupa puasa, shalat, shadaqah atau yang lainnya dari amalan amalan sunnah. Jika Allah telah mencintai seorang hamba pasti Allah akan menolongnya dan memberikan taufik pada segala tindak-tanduknya. Di antara amalan sunnah tersebut adalah puasa tiga hari pada setiap bulan.

InsyaAllah pada kesempatan kali ini kita akan mengulas pembahasan sekilas tentang hukum dan keutamaan puasa tiga hari pada setiap bulan.

Waktu Puasa Tiga Hari Pada Setiap bulan

Berpuasa tiga hari dapat dikerjakan di awal, pertengahan, atau akhir bulan. Sebagaimana dalam hadits Muadzah al Adawiyyah[1],

أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، فَقُلْتُ لَهَا: مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

“Bahwasannya ia (Muadzah al Adawiyyah) bertanya kepada Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari pada setiap bulan? Aisyah menjawab: “Betul”, maka aku kembali bertanya kepada Aisyah: Pada hari manakah dalam sebulan beliau berpuasa? Aisyah menjawab: “Beliau tidak menentukan pada hari apa Beliau berpuasa dari bulan itu.” (HR Muslim no.1160, di dalam shahihnya.)

Namun, jika puasa tiga hari setiap bulan dikerjakan pada ayyamul bidh maka hal itu lebih utama. Yaitu, pada tanggal 13, 14, dan 15 dari penanggalan hijriyyah. Dalilnya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti pada hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memerintahkan kami untuk berpuasa ayyamul bidh, yaitu tanggal 13, 14 dan 15 (dari penanggalan hijriyyah).” (HR Abu Dawud no.2449, dari hadits Ibnu milhan dari sahabat Milhan al Qoisy, sahih)[2].

Dinamakan ayyamul bidh (hari-hari yang putih) karena terangnya malam dengan cahaya bulan purnama pada tanggal 13, 14 dan 15 dari penanggalan hijriyyah.[3]


Baca Juga: Hukum Berpuasa Sunnah Namun Masih Memiliki Hutang Puasa Ramadhan


Hukum Puasa Tiga Hari Pada Setiap Bulan

Berpuasa tiga hari pada setiap bulan hukumnya adalah  sunnah (mustahab). Hal ini Berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ:صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku yaitu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tiga wasiat: Berpuasa tiga hari pada setiap bulan, Shalat dua rakaat dhuha dan mewasiatkan supaya aku shalat witir sebelum tidur.”(HR Buhari no.1981, dari sahabat Abu Hurairah)

Perintah pada hadits ini bersifat sunnah bukan wajib karena para ulama sepakat tidak ada puasa wajib kecuali puasa ramadhan dan puasa nadzar.[4]


Baca Juga: Bolehkah Seorang Istri Berpuasa Sunnah Tanpa Izin Suami?


Keutamaan Puasa Tiga Hari Pada Setiap Bulan

Puasa tiga hari pada setiap bulan pahalanya seperti pahala puasa setahun penuh, Sebagaimana yang di sebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Puasa tiga hari (pada setiap bulan) adalah seperti puasa setahun penuh.” (HR Bukhari no. 1979).

Syaikh Muhammad bin Shalih berkata: “Yang demikian ini dikarenakan setiap kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat kebaikan. Maka puasa tiga hari dikali lipatkan menjadi tiga puluh kebaikan, hal itu dalam sebulan. Kemudian seterusnya pada setiap bulan sehingga seakan-akan ia berpuasa setahun penuh.”[5]

Demikian penjelasan singkat tentang puasa tiga hari setiap bulan. Semoga ilmu yang sedikit ini Allah berkahi dan memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya. Amin. MSM-ALF

Penulis: Muhammad As Sijnul Mubarak


[1]Beliau adalah termasuk dari tabiin, nama beliau adalah Muadzah bin Abdillah Ummu shubha, termasuk dari wanita pakar hadits di Bashrah, beliau meriwayatkan hadits dari Aisyah dan Ali. Beliau radhiyallahu ‘anhu wafat  pada tahun 83 H = 702 M.

[2] Lihat Sahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud no.2449.

[3] As syarhul Mumti’ hlm 459/6.

[4] Lihat syarah Kitab as Shiyam min Bulughul Maram (42), karya syaikh Muhammad bin Shalih.

[5] Lihat as Syarhul Mumti’ (460\6).