oleh

Bukti Allah Itu Esa

Sebuah perkara yang mesti diyakini oleh setiap insan, bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Esa, tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya di dalam al-Quran,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 

“Katakanlah (Wahai Rasul) Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. (al-Ikhlas: 1)

Al-Imam Abdurrahman bin Nasir (w.1376) rahimahullah menerangkan, sifat kemahaesaan itu hanya ada pada diri Allah, Dialah dzat yang Maha Esa, yang bersendirian dengan sifat kesempurnaan. Hanya miliknya nama-nama yang indah, sifat-sifat yang sempurna lagi mulia dan perbuatan-perbuatan yang suci (dari kekurangan). Tidak ada tandingan bagi-Nya dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.1

Jika ada seorang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah salah satu dari tuhan yang tiga, maka ini adalah keyakinan yang mengeluarkan pelakunya dari bingkai keislaman dan mendapatkan azab yang pedih dari-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan di dalam ayat-Nya yang mulia,

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ۝٧٣

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah adalah salah satu dari (tuhan) yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa (Allah). Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al-Maidah: 73)

Bukti Secara Akal Bahwa Allah Itu Esa

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam al-Quran,

مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٍۢ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًۭا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ ۝٩١

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada tuhan lain beserta-Nya, maka pasti masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (al-Mukminun: 91)

Syaikh Muhammad bin Shalih (w. 1421) rahimahullah menjelaskan tentang ayat di atas,

“Seandainya kita tetapkan bagi alam ini dua pencipta, niscaya setiap pencipta menginginkan untuk sendirian bersama ciptaannya dan bersifat independen, sebagaimana lumrahnya para raja. Ia tidak rela apabila ada yang berserikat dengannya seorang pun.

Ketika ia memiliki kedaulatan seorang diri, pasti ia menginginkan perkara lain, yaitu kekuasaan tersebut harus menjadi miliknya sepenuhnya tidak ada yang menandinginya.

Ketika dua raja tersebut ingin memperluas kekuasaan maka ada dua kemungkinan, baik keduanya sama-sama tidak mampu menggulingkan yang lain atau salah satunya dapat mengalahkan lainnya. Jika salah satu mampu mengalahkan yang lain maka ia akan mendapat sifat rububiyah (ketuhanan). Namun jika keduanya sama-sama tidak mampu mengalahkan maka hilanglah sifat rububiyah dari keduanya. Karena seorang yang lemah tentu tidak pantas menjadi Rabb (Tuhan).”2

Muhammad Khalil Harras (w. 1395) rahimahullah juga menerangkan,

“Kalau begitu maka kesimpulannya adalah: berbilangnya tuhan pasti menimbulkan salah satu dari dua kondisi berikut; Pertama, masing-masing menyendiri dengan ciptaannya secara independen, atau yang kedua, sebagian mereka mengalahkan sebagian yang lain.

Kemungkinan masing-masing tuhan mempunyai ciptaan sendiri-sendiri tidak pernah ada kenyataannya. Karena yang demikian akan melahirkan diferensiasi dan perbedaan di antara bagian-bagian alam ini. Padahal senyatanya alam ini keseluruhannya teratur bagaikan satu jasad yang saling terhubung bagian-bagiannya, selaras sisi-sisinya, sehingga tidak mungkin terwujud kecuali oleh peran dari Tuhan yang satu.

Sedangkan kemungkinan salah satu tuhan mengungguli tuan yang lainnya, berkonsekuensi yang menjadi tuhan satu-satunya adalah pihak yang menang.“3

Maka kita saksikan kenyataan bahwa Allah adalah satu-satuNya yang mencipta dan mengatur alam semesta. Tidak ada sekutu dan saingan maupun tandingan bagi-Nya.

Dialah Allah satu-satunya Dzat yang mengatur alam ini. Apabila tuhan itu berbilang jumlahnya niscaya akan timbul kerusakan yang sangat besar, karena satu sama lain akan saling mengalahkan. Apabila di dalam kekuatan sama maka pasti akan saling bantu membantu, seperti halnya raja-raja di dunia, dan ini tidak akan mungkin terjadi pada Allah.

لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ ۝٢٢

“Sekiranya di langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya (langit dan bumi) akan hancur. Maka Maha Suci Allah Yang mempunyai ‘Arsy dari yang mereka sifatkan.” (al-Anbiya’: 22)4

Dialah Allah yang Esa, satu-satuNya Pencipta dan Pengatur alam. Sehingga Dialah satu-satuNya yang berhak diibadahi tiada sekutu bagi-Nya.

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْكَرِيمِ ۝١١٦

“Maha Suci Allah Penguasa yang sesungguhnya, tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia, Tuhan pemilik ‘Arsy yang mulia.” (al-Mukminun: 116)

AHS


1 Lihat Taisir Karim ar-Rahman karya Muhammad bin Nashir, hlm 937

2 Disadur dari Al-Qoul al-Mufid, karya Muhammad bin Shalih (jilid 1, hlm. 10)

3 Disadur dari Syarah Aqidah Wasithiyyah, karya Muhammad Khalil (hlm. 135)

4 idem

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait