Home / Faidah / Kalau Jadi Islam, Jangan Jadi Orang Arab?

Kalau Jadi Islam, Jangan Jadi Orang Arab?

“…Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab…”

Pembaca islamhariini.com yang semoga dirahmati Allah ta’ala, kalimat tersebut sudah sering kita dengar belakangan ini diklaim sebagai ucapan Presiden pertama, Dr. Ir. H Soekarno.

“…Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab…” Sepenggal kalimat ini tiba-tiba ramai dibicarakan. Berbagai media massa, orang per orang, silih berganti, pro dan kontra mengungkapkan pendapatnya.

Menjadi menarik untuk membicarakan kutipan kalimat yang disampaikan oleh Ketua Umum PDI-P pada acara HUT Partai yang ke-44 ini terutama tentang alasan yang melatarbelakangi ramainya hal ini dibicarakan.

Islam dan Arab

Data dan Fakta telah jelas menunjukkan bahwa agama Islam disampaikan oleh seorang Rasul berbangsa Arab begitu juga kitab sucinya, Al Qur’an diturunkan juga berbahasa arab.

Demikian pula hadits-hadits dari  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga berbahasa arab. Ibadah, bacaan Sholat, dzikir, do’a (do’a boleh juga dalam bahasa sendiri) juga berbahasa Arab. Ini data dan fakta yang  tidak dapat dipungkiri.

 

Islam memang tidak harus Arab. Namun Islam tidak bisa dipisahkan dari Arab.

Al-Qur’an adalah firman Allah, yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya. Al-Qur’an bukan produk budaya Arab.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (2

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur’an yang berbahasa Arab, agar kalian memahaminya.” (QS. Yusuf : 2)

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ (195

“dengan bahasa arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara : 195)

 

Demikian pula bacaan ibadah lainnya juga menggunakan bahasa Arab, ini adalah ketentuan syari’at Islam. Tidak boleh kemudian diganti dengan bahasa Nusantara atau bahasa lainnya selain bahasa Arab. Seperti yang dilakukan oleh Kemal Ataturk di Turki yang telah melakukan penyimpangan besar.

Begitru juga jilbab, merupakan syari’at Islam. Jilbab bukan budaya Arab. Sehingga seorang wanita muslimah wajib mengenakan jilbab syar’i, walaupun dia orang nusantara bukan orang Arab. Karena itu merupakan kewajiban syar’i.

Sekalipun segelintir orang mengatakan jilbab merupakan budaya Arab, akan tetapi pendapat ini tidak didukung bukti kuat.

Sebelum datangnya Islam, perempuan Arab tidak memakai jilbab sebagaimana  sekarang. Bahkan tidak sedikit yang berbusana terbuka ketika mengelilingi Kabah.  Seorang pria muslim yang berjenggot, dia bukan sedang melakukan adat Arab. Tapi itulah ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tidak boleh meremehkan apalagi mengolok-olok ajaran yang mulia ini.

Jadi, seorang muslim yang melaksanakan ajaran syari’at Islam, baik yang hukumnya wajib maupun anjuran (tidak wajib), maka dia seorang yang sedang menjalankan ajaran agamanya, bukan melakukan budaya arab.

Seorang muslim, wajib beribadah hanya kepada Allah satu-satunya, dan wajib mentaati perintah Rasul-Nya serta tidak beribadah kepada-Nya kecuali dengan bimbingan Rasul-Nya.

Muslim wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai al-Qur’an dan Hadits, serta wajib mengamalkannya.

Oleh karena itu wajib memahami dan mencintai bahasa Arab, karena Al-Qur’an dan Hadits disampaikan dengan bahasa Arab, mustahil bisa memahami dan mengamalkannya tanpa paham bahasa Arab.

Lebih dalam, agama Islam memang identik dengan Arab. Lantas bagaimana dengan ucapan di atas?

Logikanya sederhana. Pernyataan “…Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab…” tersebut mengandung kebenaran, sekaligus juga mengandung kebatilan, inilah yang dinamakan syubuhat.

 

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya ayahmu satu dan sesungguhnya ayahmu satu. Ketahuilah, tidak ada keunggulan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab, serta tidak pula orang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah. Yang membedakan adalah taqwanya.” (HR. Ahmad)

 

Menjadi Islam Sesungguhnya

Jadilah Islam sesungguhnya, secara menyeluruh, sebagaimana aslinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikannya. Jangan ditambah, jangan dikurang. Di sini, kita ber-Islam bukan karena Arab-nya. Namun, kita menjadi orang Arab sebatas syariat memerintahkan dan melarang.

Pernyataan “…Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab…” itu bermakna batil, ketika kita menolak Islam dengan sekedar alasan bahwa itu Arab sedangkan ini Indonesia, Nusantara.

Kembali lagi logikanya, kalau jadi Islam, jadilah Islam sesungguhnya, sepenuhnya, sebagaimana aslinya, jangan sekedar jadi orang Arab kemudian mengaku Islam. Jangan pula membuat “Islam baru” yang kemudian diberi nama Islam Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *