Home / Belajar Islam / Cara Beragama / HAL ILMIAH TENTANG MALAM NISFU SYA’BAN

HAL ILMIAH TENTANG MALAM NISFU SYA’BAN

Bulan di malam nisfu sya'ban

Sebelumnya kita telah membahas tentang BOLEHKAH BERPUASA SEBULAN PENUH DI BULAN SYA’BAN?Diantara perkara lain yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang ialah mengadakan upacara peringatan malam nisfu sya’ban, tengah-tengah bulan sya’ban yaitu tanggal 15 sya’ban.

Mereka mengkhususkan pada hari dan malam nisfu sya’ban tersebut dengan puasa atau ibadah tertentu.

Mereka meyakini  banyak kemuliaan di malam itu diantaranya Allah SWT akan mengampuni dosa orang yang minta ampunan pada malam itu, mengasihi orang yang minta kasih, menjawab do’a orang yang meminta, melapangkan penderitaan orang susah, dan membebaskan sekelompok orang dari neraka.

Sungguh sesuatu yang telah sempurna tidak boleh lagi ditambah-tambah atau dikurangi. Bagaimana tinjauan dari Agama yang sempurna ini terhadap amalan-amalan yang dikhususkan untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban tersebut ?   Mari kita lihat penjelasannya.

Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنْ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (المائدة: 3)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).

Mari kita lihat bagaimana pendapat para ulama Ahlus Sunnah terhadap pengkhususan amalam pada malam nisfu sya’ban.

  1. Hafidz ibnu Rajab dalam bukunya “Lathaiful Ma’arif ‘ mengatakan bahwa perayaan malam nisyfu sya’ban adalah bid’ah (perkara baru dalam agama) dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya adalah lemah.
  2. Imam Abu Bakar At Turthusi berkata dalam bukunya `alhawadits walbida’ : “Diriwayatkan dari wadhoh dari Zaid bin Aslam berkata :”kami belun pernah melihat seorangpun dari sesepuh ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan nisfu  sya’ban, tidak mengindahan hadits makhul (dhaif) (lemah, red) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam-malam lainnya”.
  3. Dikatakan kepada Ibnu Maliikah bahwasanya Ziad Annumari berkata:
    “Pahala yang didapat (dari ibadah ) pada malam nisyfu sya’ban menyamai pahala lailatul qadar.
    Ibnu Maliikah menjawab : Seandainya saya mendengar ucapannya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul dia. Ziad adalah seorang penceramah.
  4. Al Allamah Syaukani menulis dalam bukunya, fawaidul majmuah, sebagai berikut : Hadits : “Wahai Ali barang siapa melakukan shalat pada malam nisfu sya’ban sebanyak seratus rakaat : ia membaca setiap rakaat Al Fatihah dan Qulhuwallahuahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala …. dan seterusnya.
    Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu ‘  (palsu) dan para periwayatnya  majhul (tidak dikenal). Dalam kitab “Al-Mukhtashar” Syaukani melanjutkan : “Hadits yang menerangkan shalat nisyfu sya’ban adalah batil” .
  5. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali : “…Jika datang malam nisyfu sya’ban bershalat malamlah dan berpusalah pada siang harinya”. Inipun adalah hadits yang dhaif.
  6. Dalam buku Al-Ala’i diriwayatkan :
    “Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam nisyfu sya’ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat”. Hadits riwayat Ad-Dailamy, hadits ini tidak maudhu; tetapi mayoritas perawinya (periwayat hadits) pada jalan yang ketiga majhul (tidak dikenal) dan dho’if (lemah).
  7. Imam Syaukani berkata : “Hadits yang menerangkan bahwa dua belas raka’ at dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu’ (palsu). Dan hadits empat belas raka’at ….dst adalah maudhu”(palsu)
  8. Al-Hafidh Al-Iraqy berkata : “Hadits yang menerangkan tentang sholat nisyfu sya’ban maudhu’ dan pembohongan atas diri Rasulullallah Shalallahu’alaihi Wassallam.
  9. Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi berkata :”Shalat yang sering kita kenal dengan shalat ragha’ib berjumlah dua belas raka’at dikerjakan antara maghrib dan isya’ pada malam jum’at pertama bulan rajab, dan sholat seratus raka’at pada malam nisyfu sya’ban, dua sholat ini adalah bid’ah dan mungkar.

Jika seandainya malam nisfu sya’ban diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam telah menjelaskan kepada ummatnya atau menjalankannya sendiri.

Jika memang hal ini pernah terjadi, tentunya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita. Mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak memberi nasehat setelah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam.

Dari pendapat-pendapat ulama tadi kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam nisfu sya’ban.

Tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan malam tersebut, tetapi hadits-hadits tersebut dhoif (lemah), sehingga tidak dapat dijadikan landasan.

Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan sholat yang dikhususkan pada hari atau malam tersebut adalah maudlu (palsu).

Semoga Allah menjaga kita dari amalan-amalan yang tertolak. Dan semoga semua amal ibadah kita dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah karena dua hal ini merupakan syarat diterimanya amal ibadah. Amiin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *