Home / Faidah / Duhai Ayah dan Bunda, Kepada Siapa Kau Titipkan Pendidikanku?

Duhai Ayah dan Bunda, Kepada Siapa Kau Titipkan Pendidikanku?

Duhai Ayah dan Bunda, Kepada Siapa Kau Titipkan Pendidikanku

Kita menyadari bahwa kedua orangtua memiliki tanggungjawab besar terhadap anak-anaknya. Demikian pula keduanya memiliki peranan besar akan masa depan para anggota keluarga baik di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan;

مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ،

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Muslim)

Sehingga suatu hal yang wajar bahkan harus tatkala orangtua dituntut untuk benar-benar perhatian terhadap anak-anak mereka. Salah satunya adalah perhatian terkait pendidikan mereka.

Menjadi kewajiban tersendiri bagi orangtua untuk bersungguh-sungguh menyeleksi pendidikan sekaligus para guru bagi putra putrinya. Perkara ini yang sering dilalaikan atau dilupakan.

Betapa banyak orang tua yang tidak mau peduli bahkan berprinsip:

“Yang penting anak saya sekolah”

Atau

“Yang penting anak saya berprestasi.”

Akhirnya sekolah manapun jadilah, bahkan sekolah yang jelas-jelas milik non muslim tetap digandrungi.

Coba perhattikan kisah Ummu Sulaim yang mengantarkan anaknya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu untuk menjadi pelayan sekaligus memperoleh faidah besar berupa ilmu dan pendidikan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah contoh betapa penting serta butuh keseriusan dalam memilih dan menyeleksi pendidikan bagi seorang anak.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bercerita:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah ketika aku berumur delapan tahun. Maka ibuku pun menggandengku dan membawaku menghadap beliau. Ibuku berkata, “Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang tersisa dari kalangan orang-orang Anshar, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali telah memberikan sesuatu padamu. Sementara aku tidak mampu memberikan apa-apa kepadamu, kecuali putraku ini. Ambillah agar dia bisa membantu melayani keperluanmu.” Maka aku pun melayani beliau selama sepuluh tahun. Tak pernah beliau memukulku, tak pernah mencelaku maupun bermuka masam kepadaku.”

(Siyar A’lamin Nubala’)

Lihat pula yang dialamai al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu saat mendapatkan wejangan dari sang ibunda tercinta,

“Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kau dapati hadits itu dapat merubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!”

(Waratsatul Anbiya’)

Perhatikan pula kisah al-Imam Malik bin Anas rahimahullahu:

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku lalu berkata, ‘Kemarilah. Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Pergilah kepada Rabi’ah! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’

(Waratsatul Anbiya’)

Renungkan baik-baik kisah al-Imam asy-Syafi’i rahimahullahu berikut;

“Aku adalah seorang yatim yang diasuh sendiri oleh ibuku. Suatu ketika, ibuku menyerahkanku ke kuttab (tempat belajar). Namun ibuku tidak memiliki sesuatu pun yang bisa dia berikan kepada pengajarku. Waktu itu, pengajarku membolehkan aku menempati tempatnya tatkala dia berdiri. Ketika aku telah mengkhatamkan al-Qur’an, aku mulai masuk masjid. Di sana aku duduk di hadapan para ulama. Bila aku mendengar suatu permasalahan atau hadits yang disampaikan, maka aku pun menghafalnya. Aku tak bisa menulisnya, karena ibuku tak memiliki harta yang bisa dia berikan kepadaku untuk kubelikan kertas. Aku pun biasa mencari tulang-belulang, tembikar, tulang punuk unta, atau pelepah pohon kurma, lalu kutulis hadits di situ. Bila telah penuh, kusimpan dalam tempayan (guci) yang ada di rumah kami. Karena banyaknya tempayan terkumpul, ibuku berkata, ‘Tempayan-tempayan ini membuat sempit rumah kita.’ Maka kuambil tempayan-tempayan itu dan kuhafalkan apa yang tertulis di dalamnya, lalu aku membuangnya. Sampai kemudian Allah ta’ala memberiku kemudahan untuk berangkat menuntut ilmu ke negeri Yaman.”

(Waratsatul Anbiya’)

Subhanallah!

Tidakkah kita merasa iba sekaligus iri dengan mereka!

Jangan salahkan siapa jika banyak terjadi berbagai macam pelanggaran dan tindak kejahatan dalam dunia pendidikan kita. Tidak hanya sekolah yang bersifat formal, pondok pesantrenpun tidak lepas dan steril dari berbagai macam peristiwa-peristiwa menyedihkan.

Allahul musta’an.

Maka seleksilah dalam memilih sistem pendidikan dan juga para pengajar dan pembimbing anak-anak kita.

Sungguh suatu hal yang tidak berlebih jika Muhammad bin Sirrin rahimahullahu menyatakan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahih Muslim)

Check Also

Islam Mengharamkan Rokok

Benarkah Islam Mengharamkan Rokok?

Islam mengharamkan rokok – Kehidupan satu jiwa manusia itu sangat terjaga. Semua pintu yang akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *