Home / Faidah / CARA AHLUS SUNNAH MENYAMBUT RAMADHAN

CARA AHLUS SUNNAH MENYAMBUT RAMADHAN

Sungguh, merupakan hal yang telah diketahui tentang keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dahulu, bahwasanya beliau telah melakukan persiapan untuk menyambut Ramadhan. Beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.  Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Kemudian ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa. Dan kesungguhan beliau terus bertambah terkhusus ketika mulai memasuki sepuluh hari terakhir di Ramadhan.

Ketika mulai memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mulai menyingsingkan lengan baju dan mengencangkan ikat pinggangnya, kemudian beliau beri’tikaf, demikian juga para istri beliau dan banyak para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  juga demikian. Mereka benar-benar melaksanakan amalan yang agung ini dengan kesungguhan.

Menyambut Ramadhan dengan kesungguhan, amalan yang shalih dan suka berbuat kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Apalagi ketika memasuki bulan Ramadhan, maka sifat kedermawanan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam semakin bertambah dan bahkan melebihi daripada angin yang bertiup.

Terkhusus tatkala Malaikat Jibril ‘alaihish shalatu wassalam datang kepada beliau, sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an di hadapan Malaikat Jibril di setiap bulan Ramadhan sebanyak satu kali.

Dan ketika di tahun terakhir menjelang wafatnya, beliau membacakan Al-Qur’an di hadapan Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Sebagaimana hal ini dijelaskan di dalam hadits ‘Aisyah dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. Dan yang demikian itu merupakan isyarat akan dekatnya wafat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagaimana pada generasi terbaik ummat ini dalam menyambut Ramadhan ?

Generasi terdahulu sangat antusias dan memberikan perhatian yang lebih di dalam menyambut Ramadhan yang agung ini, dengan melakukan amalan-amalan shalih seperti: membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir dan menahan diri dari perbuatan maksiat.

Perlu diketahui sebelum kita menyambut Ramadhan bahwasanya konsekuensi dari ibadah puasa tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, namun juga harus mampu menahan diri dari segala perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah ta’ala dari perbuatan maksiat dan sebagainya.

Para generasi terdahulu menyambut Ramadhan dengan melakukan amalan-amalan ketaatan kepada Allah ta’ala dengan mengikhlaskan niat hanya semata-mata karena Allah.

Para generasi terdahulu, sebagaimana diceritakan oleh Al-Imam Malik dan beliau adalah orang yang mengetahui tentang keadaan umat, apabila telah datang bulan Ramadhan, mereka menghabiskan waktunya untuk puasa dan membaca Al-Qur’an.

Bukan hanya saat menyambut Ramadhan, mereka memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur’an pada bulan ramadhan yang mulia ini kemudian merenungi dan memperhatikan makna-maknanya, mengambil  nasihat yang ada di dalamnya…

…dan menghindarkan diri dari berbagai larangannya, memahami perkara-perkara yang halal dan haram, memahami janji-janji dan ancaman Allah serta berbagai hal lain yang ada dalam Al-Qur’an.

Dengan Al-Qur’an, mereka membersihkan jiwa dan dengannya pula akan menerangi hati.

Al-Qur’an adalah kehidupan, cahaya dan petunjuk, sebagaimana yang Allah ta’ala sifatkan dalam firman-Nya:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [Asy-Syura: 52]

Kesimpulannya bahwa mereka generasi terdahulu sebagai teladan bagi kita. Lihatlah bagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam menyambut Ramadhan.

Maka baca dan pelajarilah bagaimana kesungguhan mereka dalam menyambut Ramadhan, kesabaran dan keikhlasan mereka kepada Allah serta upaya yang mereka lakukan dengan sekuat tenaga untuk beribadah di bulan yang mulia ini dan juga di bulan yang lainnya.

Maksudnya adalah ini sebagai nasihat bagi kita bahwa ketaatan dan amal shalih bukan hanya saat menyambut ramadhan atau di bulan Ramadhan saja kemudian kita lupa dan meninggalkan amalan-amalan ketaatan di bulan-bulan yang lainnya!

Persiapan yang kita lakukan untuk menyambut Ramadhan serta amal shalih di bulan Ramadhan hendaknya terus disambung pada bulan-bulan lain seperti shalat malam, menghadapkan diri kita kepada Allah dan menjalankan berbagai ketaatan yang dengannya kita mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan.

Bukan kemudian kita menjadi lupa.!

Sebagian manusia, mereka menyambut Ramadhan dan mengisi bulan Ramadhan tersebut dengan amalan-amalan ketaatan. Kemudian apabila bulan Ramadhan tersebut telah berlalu,..?!

..maka ibadah mereka berkurang kemudian malas serta mulai melupakan amalan-amalan ketaatan.

Bukan seperti ini yang kita inginkan.!

Sehingga tidak diragukan lagi, bahwa hendaknya kita memberikan perhatian yang lebih banyak untuk menyambut Ramadhan dan di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan yang lainnya. Akan tetapi dengan semakin bertambahnya tahun dan kehidupan ini, mengharuskan diri kita untuk selalu mengingat Allah ta’ala bukan hanya ketika menyambut ramadhan dan pada bulan ramadhan saja.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا{41 } وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا{42 }

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” [Al-Ahzab: 41-42].

Maka sebagai seorang mu’min yang bersemangat menyambut Ramadhan, wajib untuk selalu mengingat Allah ta’ala, mentaati-Nya, bertakwa kepada-Nya, dan takut serta merasa diawasi oleh-Nya di setiap waktu dalam kehidupan.

Pembaca islamhariini.com, semoga Allah ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita  agar dimudahkan untuk bersungguh sungguh dalam menyambut Ramadhan, melaksanakan shalat malam, puasa dan hal-hal lain yang diwajibkan pada bulan Ramadhan yang mulia ini.

Dengan mulai melakukan persiapan-persiapan dalam menyambut Ramadhan, semoga kita bisa bersemangat untuk meraih berbagai keutamaan yang ada di dalamnya.

Kita juga memohon kepada Allah dalam menyambut Ramadhan ini, agar selalu memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa menunaikan amalan-amalan ketaatan  dan menjalankan segala yang diridhai-Nya.

Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar do’a yang dipanjatkan kepada-Nya.

Semoga teladan dalam menyambut Ramadhan ini bermanfaat bagi para pembaca islamhariini.com.

Mari mulai menyambut ramadhan dengan mengikuti cara para generasi terdahulu.

Yuk, menyambut ramadhan yang penuh berkah ini.!

About cahaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *